BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Sabtu, 16 September 2017

Mystery of Levantara - Episode 2

Mystery of Levantara
(Episode 2)


Mystery of Levantara

Informasi
Judul:
Mystery of Levantara
(Episode 2 - Pertemuan dengan Lola)
Pembuat:
Beny Oki
Genre:
Petualangan, Misteri, Fiksi, Fantasi
Rating:
General
Prolog:
Kisah ini menceritakan tentang lima orang yang mengadakan liburan ke Osaka, Jepang. Mereka adalah Budi, Ridwan, Agus, Lola, dan Angelina. Osaka dipilih karena mempunyai panorama alam yang indah. Dalam liburannya di Osaka, mereka dikejutkan dengan hal-hal yang janggal dan sulit diterima oleh nalar pikiran ketika Budi yang menjadi pemimpin grup tak sengaja menemukan sebuah Levantara—kertas petunjuk rahasia—di sebuah bangunan tua yang sudah tak berpenghuni. Levantara tersebut kemudian membawa mereka ke sebuah dunia bernama Archanist. Dari sinilah petualangan akan dimulai.
Pemeran Utama:
Budi Darmawan Budi
(Sebagai Budi)
Ridwan Muhammad Ridwan
(Sebagai Ridwan)
Agus Dwi Agus Wicaksana
(Sebagai Agus)
Lola Lola Zieta
(Sebagai Lola)
Angelina Angelina Hirawan
(Sebagai Angelina)

Pemeran Pendukung:
Saki Saki Yamashita (Cyntia)
(Sebagai Saki)
Atsumi Saiki Atsumi (BAND-MAID)
(Sebagai Atsumi)
Yuko Yuko Suzuhana (Wagakki Band)
(Sebagai Yuko)
Ninagawa Beni Ninagawa (Wagakki Band)
(Sebagai Ninagawa)
Shani Shani Indira (JKT48)
(Sebagai Shani)


Tiga hari kemudian ....

Agus telah sampai di rumahnya Ridwan. Rumah milik Ridwan dijadikan tempat berkumpul sementara sebelum berangkat ke bandara. Agus kala itu datang lebih dulu dibandingkan Budi. Dengan berbagai barang kebutuhan yang banyak, Agus sudah menyiapkan tas yang berukuran cukup besar.

“Sepertinya ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan.” Agus tersenyum ketika membuka satu per satu tasnya. “Bagaimana, Wan?”

Ridwan yang berada di dekat Agus hanya bisa terdiam dan terpaku, kedua matanya seakan tak berkedip. Melihat temannya tersebut yang membawa banyak barang kebutuhan untuk liburan dirasa sangat berlebihan. Ridwan berpikir jika Agus justru terlihat seperti pengungsi yang butuh tempat untuk menetap. “Aduh, Gus ....” Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa.

Gaya bicara Ridwan terkesan meledek. Sadar akan hal ini, Agus membalas, “Ada apa, Wan?”

“Haha ....” Ridwan berjalan mendekat, memasang raut wajah menahan tawa. “Kau membawa barang terlalu banyak, Gus.”

Sambil mengusap-usap tas, Agus mencoba berpikir kembali. “Iya, ’kah?”

“Tentu saja,” balas Ridwan. Kini dia mengecek kembali paspor yang dia taruh di atas meja.

“Aku sebenarnya—” Agus menahan sesaat ucapannya. Pandangannya tertuju ke arah gerbang rumah milik Ridwan. Dilihatnya seorang laki-laki dan perempuan yang berjalan mendekat. Ridwan yang berdiri di dekat pintu merasa lega sebab dua orang yang ditunggu telah sampai di rumahnya.

“Bud ....” Ridwan berteriak, melambaikan tangan kirinya.

Budi melepaskan topi, pandangannya tertuju ke arah kakak perempuannya, lalu kembali menatap Ridwan. “Sudah lama menunggu, ya? Lihat ... siapa yang aku ajak?”

“Wah ... Mbak Lina jadi ikut juga?” Agus berjabat tangan dengan Angelina. “Syukur, deh. Ada yang bisa berbahasa Inggris.”

“Iya, kuputuskan untuk ikut.” Angelina melihat jam di tangannya. “Kita berangkat jam berapa, Wan?”

Ridwan menjawab, “Mbak Lina, jam 12:00 kita harus sudah sampai di bandara.”

Ridwan menyuruh sopir pribadi di rumahnya untuk mengantar menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebuah mobil merek Mercedes-Benz berwarna silver sudah disiapkan. Ridwan, Agus, Budi, dan Lina bergegas masuk ke dalam mobil. Agus yang jarang naik mobil Mercedes-Benz merasa senang. Ini kali pertama dia naik mobil mewah. Mobil milik Ridwan mampu menampung sebanyak 6 orang. Di kursi depan ditempati Ridwan dan sopirnya. Budi dan Lina duduk tepat berada di belakangnya sedangkan Agus duduk sendirian di kursi paling belakang dengan tasnya.

Di dalam mobil, Agus memulai pembicaraan. “Aku ingin mampir ke perkebunan selagi di Osaka.”

“Iya, Osaka memang terkenal dengan perkebunan buah-buahannya,” tambah Lina yang kala itu sedang merias bibirnya menggunakan lipstik.

Sesampainya di bandara, rombongan Budi langsung bersiap menuju pesawat dikarenakan waktu yang sedikit mepet dengan jadwal keberangkatan. Pesawat Japan Airlines sudah berada di atas landasan. Pesawat tersebut dipilih karena memiliki pelayanan yang bagus serta selalu mengutamakan kenyamanan penumpang. Tepat pukul 12:00, pesawat telah lepas landas. Saat penerbangan berlangsung, para penumpang disuguhkan dengan tayangan film di depan kursinya. Budi dan Ridwan tampak menikmati film aksi laga yang sempat diputar. Lina sedikit kurang suka dengan film yang diputar maka dia memilih memandangi awan. Di sisi lain, Agus memilih tidur dengan headphone yang terpasang di telinganya.

Kedua mata Budi fokus di layar. “Film yang dibintangi Stephen Chow memang selalu memberi kesan tersendiri. Ya, ’kan?”

“Iya, betul.” Ridwan menoleh ke arah Budi. “Tapi aktingnya sedikit konyol.”

Tak terasa perjalanan menuju Osaka telah sampai juga. Pesawat sukses mendarat di Osaka Airport. Di bandara, Agus tersenyum dengan kacamata hitam yang dipakainya. “Wah, gadis-gadis di sini semuanya cantik-cantik.”

“Ya ... aku tahu itu.” Budi menepuk pundak Agus. Dia berjalan dengan santai sembari mengamati suasana yang sedang terjadi.

“Tapi kau tidak berani mengajak berkenalan, Gus. Haha ....” Ridwan tertawa lebar, menyela pembicaraan.

Agus menatap Ridwan dengan tatapan sinis. Ucapan kawannya tersebut memang kerap membuat Agus terbawa emosi, namun dia tidak peduli akan hal ini. Tepat di pintu keluar bandara, terlihat seorang pria yang tidak dikenal sedang berlari terbirit-birit. Dia berlari menuju rombongan Budi. Sang pria terus berlari dengan kencangnya. Bahkan hampir akan menabrak Agus. Beruntung Agus mampu sedikit menghindar. Budi yang juga melihat kejadian ini merasa bingung. Pria yang berlari dan hampir menabraknya terlihat mencurigakan.

“Pencuri ....” Dari arah kejauhan terdengar suara wanita yang berteriak, tampak sedang butuh pertolongan. Ridwan menoleh, kini dia melihat seorang lagi yang sedang berlari. Kali ini seorang wanita berlari ke arahnya.

Ridwan terkejut. “Ada apa ini?”

“Pencuri ....” Sang wanita kembali berteriak. “Minggir ....”

Tidak ada persiapan bagi Ridwan untuk menghindar. Mau tidak mau dia akhirnya ditabrak oleh wanita yang belum diketahui namanya. Keduanya jatuh bersamaan. Kejadian ini sempat membuat heboh. Untung tidak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Kedua mata Ridwan masih terpejam. Dalam hati, dia berkata, “Baru kali ini aku ditabrak seorang wanita.”

Ridwan dan sang wanita masih terkapar di lantai. Sang wanita kemudian mengangkat kepalanya yang sempat berada di dada Ridwan. “Ya ampun ... kepalaku pusing,” ucapnya, lirih.

“Are you OK?” tanya Budi dalam bahasa Inggris. Ini pertama kalinya dia bertanya dengan orang di luar negeri menggunakan bahasa Inggris.

Sang wanita bangkit berdiri, tangannya memegang kepala. Dia tampak sedih setelah kehilangan jejak pencuri yang telah mengambil barang yang sangat berharga. “Iya, aku tidak apa-apa.”

Agus menepuk pundak Budi, kemudian berucap, “Hah ... dia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia, Bud.”

Budi ingin tahu identitas sang wanita yang berlari sehingga menabrak Ridwan. Dia pun memberanikan diri untuk menanyakan namanya. “Siapa namamu, Mbak?”

Sang wanita berambut panjang dan bertubuh tinggi tersebut kemudian menjawab, “Lola—”

Bersambung ....

Daftar Episode

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel