BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Rabu, 19 April 2017

Zwei Freunde - Episode 5 (Tamat)

Zwei Freunde
(Episode 5 - Tamat)


Zwei Freunde

Informasi
Judul:
Zwei Freunde
(Episode 5 - Tamat)
Pembuat:
Beny Oki
Genre:
Fiksi, Komedi, Persahabatan
Rating:
General
Pemeran:
1. Marco Reus: Merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Berkepribadian baik, setia kawan, sering membohongi kakaknya, dan mudah grogi ketika bertemu cewek yang baru dikenalnya. Marco Reus adalah siswa di SMA Himawariverein kelas XI. Sahabat terbaiknya adalah Aubameyang. Marco Reus mempunyai seorang kakak perempuan bernama Eir Aoi.

2. Pierre-Emerick Aubameyang: Merupakan sahabat terbaik Marco Reus. Berkepribadian baik, lucu, namun mudah panik. Aubameyang merupakan siswa di SMA Himawariverein kelas XI.

3. Eir Aoi: Merupakan kakak perempuan Marco Reus. Berkepribadian baik dan selalu mengingatkan Marco Reus untuk selalu belajar. Saat ini, dia masih menjadi mahasiswi di Universitas Mrxiverein. Ketika kedua orang tuanya pergi ke luar negeri, Eir diberi tugas menjaga Marco Reus agar selalu berperilaku baik.

4. Marina Bozzio: Merupakan siswi pindahan di SMA Himawariverein kelas XI. Sebelumnya, dia adalah murid dari SMA Sakuraverein. Alasan dia pindah ke SMA Himawariverein karena sekolahnya dekat dengan rumah pamannya, yakni Thomas Tuchel. Marina adalah siswi yang pandai di kelasnya. Bahkan, Marco Reus dan Aubameyang kerap bertanya kepadanya jika menemukan materi yang sulit diselesaikan.

5. Alodia Almira Arraiza Gosiengfiao: Adalah seorang guru di SMA Himawariverein. Mengajar mata pelajaran Geografi sekaligus wali kelas di kelasnya Marco Reus dan Aubameyang. Berwatak tegas dan serius ketika sedang mengajar.

6. Thomas Tuchel: Adalah pamannya Marina. Berwatak baik dan bersahaja. Thomas Tuchel mempunyai studio musik yang bernama Tuchel Heavy-Sound.


Minggu pagi telah tiba. Terdengar pula suara burung berkicau di pepohonan samping rumahku. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 05:07 pagi. Kubuka kedua mataku, perlahan tapi pasti. Aku mulai beranjak dari tempat tidur. Walaupun sedikit malas, tetapi aku berusaha bangun pagi meski hari ini adalah hari Minggu. Sejenak aku berhenti di samping pintu kamar. Kedua mataku masih sulit kubuka. Aku mulai berjalan menuju ke kamar kakakku, yakni Eir Aoi yang hanya bersebelahan. Sepertinya dia belum bangun. Kubuka pintu kamarnya. Kulihat, ternyata dia masih tidur pulas. Mungkin masih lelah karena lembur mengerjakan tugas tadi malam. Kakakku memang dikenal sebagai mahasiswi yang rajin oleh teman-temannya.

“Kak, bangun! Ini sudah pagi.” Kutepuk pipinya agar dia segera bangun, tetapi tetap tidak bangun juga.

“Apa sih, Dek? Kakak masih ngantuk,” ucapnya datar dengan mata yang masih tertutup rapat. Aku terus mencoba membangunkannya.

Aku pun berteriak, “Woy, bangun, woy!”

Petaka akhirnya menimpaku juga. Dia melemparkan bantalnya ke arahku. Aku mencoba menghindar. Namun saat menghindar, kepalaku justru membentur meja. Rasanya lumayan sakit, itulah yang aku rasakan. “Aduh ....” Kuusap-usap kepalaku dengan ekspresi raut wajah yang sedang menahan rasa sakit. “Ya sudah kalau tidak mau bangun, Kak.” Aku kemudian berjalan ke ruang dapur untuk sekadar minum air putih.

Aku tak terbiasa minum air putih di pagi hari, rasanya dingin. Kulihat lukisan miring yang terpampang di dinding. Spontan aku jadi teringat jika hari ini ada tugas kelompok tentang pelajaran Seni Musik. Dengan segera, aku mengambil ponsel dan menghubungi sahabat terbaikku, yakni Aubameyang. Kutunggu sampai dia mengangkat teleponku. “Bro, bagaimana tugas kita?”

Tak lama kemudian, Aubameyang menjawab, “Jadi begini, Reus. Aku punya kenalan seseorang yang bisa membantu kita. Namanya Pak Tuchel, beliau punya studio musik. Mungkin kita akan membayar murah kalau pergi ke sana,” tegas Aubameyang sembari menelan roti.

Aku yang mendengar berita ini menjadi sangat sumringah. “Wah, idemu maknyus. Nanti aku ke rumahmu, Bro.”

Setelah sambungan telepon terputus, aku spontan menjadi teringat sesuatu. Aku teringat kalau Marina pernah bertanya kepadaku mengenai lokasi rumahnya Pak Tuchel. Dengan kata lain, Pak Tuchel adalah pamannya. Perasaanku semakin tidak percaya. Aku harus menjaga sikap untuk berperilaku baik. Namun, aku tidak tahu dengan Aubameyang karena dia yang paling enerjik. “Busyet! Jadi Pak Tuchel itu pamannya Marina? Berarti nanti aku dan Aubameyang akan pergi ke studio musik milik pamannya Marina?”

~o0o~

Waktu sudah menunjukkan pukul 09:09 dari Dortmund, Jerman. Aku bersiap menghidupkan mobil Mercedes-Benz. Tak lupa, aku berpamitan kepada kakakku perihal akan mengerjakan tugas Seni Musik. “Kak, aku pergi dulu ya,” teriakku dengan lantang. Mobil Mercedes-Benz tak sabar aku kendarai. Suara mesin yang terdengar garang membuatku tambah bersemangat.

“Heh, kamu mau naik mobil, Dek? Umurmu baru 18 tahun, lho. Hati-hati dan jangan pecicilan di jalan, ya!” pinta kakakku dari arah kejauhan. Kebetulan dia baru bangun tidur sehingga aku merasa seperti bebas. Aku akan menghampiri Aubameyang terlebih dahulu sebelum pergi ke rumahnya Marina. Di sepanjang jalan, terlihat banyak anak-anak muda yang naik sepeda. Mungkin maksud mereka adalah jalan-jalan sambil berolahraga. Tak lama setelah itu, aku telah sampai di depan rumahnya Aubameyang. Kubunyikan klakson. Ternyata suara klakson mobilku lumayan keras. Bahkan aku sampai kaget dan berefek pada lutut kakiku yang mengenai bagian setir.

Aubameyang keluar dari rumahnya. Dia seperti terkejut saat aku menaiki mobil Mercedes-Benz. Dia berjalan mendekat dengan raut wajah tak percaya. “Itu kau, Reus?”

Kubuka pintu mobil. “Yo’i, Bro. Cepat naik!”

Kami bergegas untuk menghampiri Marina di rumahnya. Aku yang mengemudikan mobil, Aubameyang duduk di sampingku. Kami berdua selalu bercanda ketika sedang mengobrol. Topiknya aneh-aneh dan tidak jelas. Itulah kami, seperti saudara meski beda ibu. Sesampainya di depan rumahnya Marina, kami berdua berhenti sejenak untuk berpikir. Aubameyang mengintip dari kaca mobil. “Rumahnya kelihatan sepi. Ya, ’kan, Reus?”

“Betul itu, Bro. Terus siapa yang akan memanggilnya?” balasku kepada Aubameyang. Aku merasa grogi saat datang ke rumah teman yang baru aku kenal, apalagi cewek.

“Aku saja yang memanggilnya, Reus. Kau tunggu saja di mobil!” Aubameyang keluar dari mobil dan berjalan ke depan teras rumahnya Marina.

Sesampainya di depan pintu, Aubameyang membunyikan bel dan berkata, “Halo, permisi. Apa ada orang?”

Kami berdua sabar menunggu. Tak lama, akhirnya pintu dibuka dari dalam rumah. Ternyata yang membuka pintu adalah Marina sendiri. Dia terkejut setelah melihat penampilan Aubameyang yang sedikit berubah, yakni dengan memakai kaca mata berwarna hitam dan memakai topi yang diarahkan ke belakang. “Hah! Itu kamu, Auba?” kejut Marina sedikit mundur ke belakang. “Kenapa penampilanmu berubah begitu?”

Aubameyang membalas, “Sudah siap? Ayo kita pergi ke studio musik!”

Marina menarik tangan Aubameyang. “Ngomong-ngomong kita pergi naik mobil itu, ya? Bagus sekali mobilnya.”

“Iya, dong. Siapa dulu tukang sopirnya? Reus gitu, loh.” Canda Aubameyang membuat Marina menjadi tertawa.

Aubameyang dan Marina sudah masuk ke dalam mobil. Aku merasa sedih sebab hanya dianggap sebagai tukang sopir. “Sialan si Aubameyang. Memanggilku dengan sebutan tukang sopir, tapi benar, sih.”

Kami bertiga dalam perjalanan menuju ke studio musik. Meski mobilku tergolong mobil sport, tapi aku tetap fokus menyetir mobil dengan santai dan tidak ngebut. Aku di kursi depan sambil mendengarkan lagunya Kalafina yang berjudul “Mahiru”. Aubameyang dan Marina justru cengengesan di kursi belakang. Sampai saat ini kami bertiga belum memikirkan judul lagu yang akan di-cover untuk tugas Seni Musik. Tak lama kemudian, kami telah sampai di studio musik Tuchel Heavy-Sound yang dimiliki pamannya Marina, yakni Thomas Tuchel. Aku baru pertama kali datang ke tempat ini. Ternyata studio musiknya cukup besar dan tentunya bersih.

Di depan pintu masuk, Pak Tuchel datang menghampiri kami. “Eh, ada Aubameyang. Tumben main-main ke sini?” sapanya dengan gembira.

Sambil berjabat tangan dengan Pak Tuchel, Aubameyang dengan perasaan senang berkata, “Iya nih, soalnya ada tugas Seni Musik.”

“Jadi ini studio musik milik paman?” sela Marina sambil berjalan mendekati pamannya, yakni Pak Tuchel.

Pak Tuchel terkejut melihat Marina yang datang ke studio musik miliknya. “Lah, kamu datang ke sini juga, Marina?”

Sambil tersenyum, Marina menjawab, “Iya, paman. Kami bertiga akan mengerjakan tugas Seni Musik. Tak tahunya ternyata malah ke studio musik milik paman.”

“Oh, jadi begitu. Kalau begitu kalian di sini tidak usah membayar, alias gratis,” terang Pak Tuchel dengan perasaan senang.

Setelah percakapan tersebut, kami bertiga langsung mengambil alat musik. Aku memainkan gitar, Aubameyang memainkan drum, dan Marina bertindak sebagai vokalis.

“Wuih, gitarnya kinclong, Bro.” Kupilih satu gitar yang dirasa cocok.

“Iya dong, Reus. Pak Tuchel memang selalu memperhatikan kualitas,” sahut Aubameyang yang sedang mencoba memainkan drum.

Kami bertiga mengalami kesulitan saat memilih lagu untuk dijadikan tugas. Aku mengusulkan lagunya Linkin Park yang berjudul “A Place of My Head”. Namun Marina dan Aubameyang kompak mengusulkan lagunya Justin Bieber yang berjudul “Sorry”. Aku pasrah setelah tahu hal ini. Mau tidak mau kami bertiga akan menyanyikan lagunya Justin Bieber yang berjudul “Sorry”. Setelah disepakati bersama, aku, Aubameyang, dan Marina mulai menyanyikan lagu tersebut dan langsung direkam ke dalam format video. Kami bertiga membawakan lagu milik Justin Bieber dengan versi kami sendiri. Aubameyang selalu tampil ceria saat menabuh drum. Aku baru pertama kali melihat Marina bernyanyi. Ternyata suaranya cukup merdu.

Sudah sekitar satu jam lebih kami menyanyikan lagu milik Justin Bieber dengan cara mengulang-ulang, akhirnya selesai juga. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk meng-cover lagu tersebut.

“Wih, bagus ini.” Aubameyang melihat video yang tadi direkam.

“Ternyata ekspresi wajahku terlihat jutek, ya?” ucapku sambil menatap ke arah Aubameyang dan Marina.

Aubameyang berkata, “Itu sudah menjadi kebiasaanmu, Reus. Coba lihat aku, aku tampak ceria ketika menabuh drum. Juga Marina, tampak bagus pada penghayatan lagunya.”

“Jadi, bagaimana, nih? Apa aku harus lebih tampil ceria lagi?” tanyaku lagi kepada Aubameyang.

Marina menyela, “Ah, tidak usah. Ini sudah cukup bagus, kok.”

Hari telah berganti ....

“Edan ini jam weker. Aku sudah mengatur alarm di jam 04:09 pagi, tapi bunyinya justru di jam 06:46,” ucapku kesal dalam hati. Aku pun berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa. Firasatku sudah tidak enak. Hari Senin dan turun hujan. Tentu upacara bendera ditiadakan. Pelajaran pertama waktu itu adalah Geografi. Seperti biasa, Bu Mira adalah guru yang mengajar mata pelajaran tersebut. Aku terlambat masuk ke kelas sekitar 9 menit dan masih dimaklumi. Nasib baik untukku sehingga aku tidak mendapatkan hukuman. Aku bisa bernapas lega setelah terhindar dari hukuman yang kerap aku terima dari Bu Mira. Pelajaran Geografi tidak begitu sulit, terbukti banyak teman-temanku yang tidak bertanya ketika Bu Mira menerangkan. Ada dua kemungkinan, antara takut bertanya dan bingung tentang apa yang akan ditanyakan.

Jam pelajaran Geografi telah selesai. Ternyata Bu Mira mendapat amanat dari guru Seni Musik untuk menyuruh kepada masing-masing kelompok agar segera mengumpulkan tugas cover lagu. Di jam pelajaran akhir nanti, guru Seni Musik akan mengumumkan nilai yang didapat masing-masing kelompok. Bu Mira berkata, “Anak-anak, saya mendapat perintah dari guru Seni Musik untuk mengumpulkan tugas yang kalian buat.”

“Wow, ternyata tugas cover lagunya dikumpulkan sekarang. Mungkin di jam terakhir nanti akan diumumkan nama kelompok yang akan mendapat nilai tertinggi. Ya ’kan, Reus?” bisik Aubameyang cengengesan ke telingaku.

“Yo’i, Bro,” balasku dengan nada pesimis setelah di video kemarin ekspresi wajahku terlihat sangat jutek.

Suara bel jam istirahat telah berbunyi. Aku dan Aubameyang tidak pergi ke kantin, namun kami berdua memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah. “Bro, kalau hasil cover-an lagu kita mendapat nilai jelek bagaimana?” tanyaku sedikit gusar. Melihat respon dari Aubameyang yang sedikit lama membuatku khawatir. Dalam hati, aku berkata, “Mungkin aku akan dikecewakan.”

Setelah aku tengok, ternyata Aubameyang sedang mendengarkan lagu dengan menggunakan headset-nya. Pantas saja saat aku bertanya dia tak menjawab. Aubameyang sedang asik mendengarkan lagu hasil cover-an kemarin. Dia berjalan mundur dan tidak fokus ketika berjalan. Akhirnya Aubameyang menabrak seseorang di depan pintu perpustakaan.

“Aduh ....” Terdengarlah suara perempuan yang terjatuh. Aubameyang kemudian menoleh ke arah belakang.

“Marina, kau tidak apa-apa, ’kan?” Aubameyang mencoba menolong Marina yang saat itu sedang terjatuh. Aku yang melihat mereka berdua justru bersikap netral dan cuek.

Aku berkata, “Wah, kebetulan kamu ada di sini, Marina. Ada sesuatu yang akan kita bertiga bahas,” terangku sambil berjalan masuk ke perpustakaan.

Marina membalas, “Membahas tentang apa, Reus?”

“Jadi begini, seandainya lagu yang kita bertiga cover kemarin mendapat nilai jelek tidak apa-apa, ’kan?” tanyaku lagi.

Marina menjawab, “Tidak apa-apa, yang terpenting kita sudah berusaha.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 12:45 siang, itu berarti jam mata pelajaran terakhir, yakni pelajaran Seni Musik. Teman-temanku di kelas sudah tidak sabar melihat nilai dari masing-masing kelompok. Aku benar-benar terkejut setelah melihat nilai kelompokku jika dibandingkan dengan kelompok lain. Kulihat Aubameyang tampak sumringah dan Marina tampak tersenyum. Guru Seni Musik berkata, “Selamat kepada kelompoknya Reus, Aubameyang, dan Marina. Kalian mendapat nilai tertinggi, yakni 8,5. Suara sang vokalis, yakni Marina cukup merdu, begitu juga dengan penghayatan pada lagunya cukup dalam. Aubameyang tampak ceria dan atraktif. Reus tampak sedikit jutek, tapi itu bukan masalah. Ayo beri tepuk tangan!”

Tak disangka-sangka sebelumnya. Aku awalnya merasa sangat pesimis dengan hasil tugas Seni Musik, ternyata justru mendapat nilai tertinggi di kelas. Kami bertiga merasa sangat senang pada hari itu.

Tamat ....

Daftar Episode

2 komentar:

  1. 18 tahun tak mengapa menyetir mobil kan sudah bisa buat sim, enak kejedut meja, nggk benjut kan hehe

    BalasHapus

Cari Artikel