BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Rabu, 01 Maret 2017

Zwei Freunde - Episode 2

Zwei Freunde
(Episode 2)


Zwei Freunde

Informasi
Judul:
Zwei Freunde
(Episode 2)
Pembuat:
Beny Oki
Genre:
Fiksi, Komedi, Persahabatan
Rating:
General
Pemeran:
1. Marco Reus: Merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Berkepribadian baik, setia kawan, sering membohongi kakaknya, dan mudah grogi ketika bertemu cewek yang baru dikenalnya. Marco Reus adalah siswa di SMA Himawariverein kelas XI. Sahabat terbaiknya adalah Aubameyang. Marco Reus mempunyai seorang kakak perempuan bernama Eir Aoi.

2. Pierre-Emerick Aubameyang: Merupakan sahabat terbaik Marco Reus. Berkepribadian baik, lucu, namun mudah panik. Aubameyang merupakan siswa di SMA Himawariverein kelas XI.

3. Eir Aoi: Merupakan kakak perempuan Marco Reus. Berkepribadian baik dan selalu mengingatkan Marco Reus untuk selalu belajar. Saat ini, dia masih menjadi mahasiswi di Universitas Mrxiverein. Ketika kedua orang tuanya pergi ke luar negeri, Eir diberi tugas menjaga Marco Reus agar selalu berperilaku baik.

4. Marina Bozzio: Merupakan siswi pindahan di SMA Himawariverein kelas XI. Sebelumnya, dia adalah murid dari SMA Sakuraverein. Alasan dia pindah ke SMA Himawariverein karena sekolahnya dekat dengan rumah pamannya, yakni Thomas Tuchel. Marina adalah siswi yang pandai di kelasnya. Bahkan, Marco Reus dan Aubameyang kerap bertanya kepadanya jika menemukan materi yang sulit diselesaikan.


Sejenak aku terdiam dan menunduk di depan pintu teras rumah. Banyak nasihat dari kakak yang masuk ke telingaku. Rasa menyesal benar-benar menghinggapiku. Tak lama kemudian, dia menyuruhku untuk masuk ke kamar dan memintaku segera tidur. “Ya sudah. Cepat masuk dan tidur! Kamu telah membohongi kakak, Dek,” ucapnya sambil menunjukku dengan jari telunjuknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01:48 dini hari. Aku lantas beristirahat dan tidur.

~o0o~

Keesokan harinya, kubuka kedua mataku dan segera beranjak bangun dari tempat tidur. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 08:14 pagi. Aku sontak kaget. “Busyet, dah! Jam 08:14 pagi? Wah, bisa-bisa aku telat berangkat sekolah, nih.” Waktu itu aku sangat panik dan langsung berlari menuju ke kamar mandi. Tanpa sengaja, aku menabrak kakakku dari samping hingga kami berdua terjatuh di depan pintu kamar mandi.

Spontan, aku langsung mengulurkan tangan untuk menolongnya. Aku mencoba membantunya untuk berdiri. “Kau tidak apa-apa, ’kan, Kak? Maaf, maaf.”

“Kamu kenapa, sih, Dek ... kok lari-larian?” ucapnya dengan raut muka cemberut.

Dengan penuh rasa menyesal, aku berkata, “Maaf, Kak. Aku takut telat berangkat ke sekolah ..., jadinya tergesa-gesa.”

“Hah ... hari ini ’kan hari Minggu?” balasnya. Aku kaget untuk kedua kalinya.

Sambil menepuk kening. “Oh, iya ... hari ini ’kan hari Minggu. Ini pasti efek menonton dangdut tadi malam,” ucapku dalam hati. Aku memasang raut muka nyengir. Tanpa disangka-sangka sebelumnya, ternyata aku merasa seperti orang yang linglung.

“Kamu mandinya belakangan saja, ya ... kakak juga sedang buru-buru, nih. Ada pertemuan di kampus,” pinta kakakku. Aku pun mengalah setelah mendengar perkataannya.

Dalam hati, aku berkata, “Jarang sekali aku melihat kakak pergi ke kampus di hari Minggu, ada apa ini?”

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:53 siang. Aku merasa kesepian di rumah. “Huh ... aku sendirian di rumah. Kakak pergi ke kampus sedangkan ayah dan ibu pergi ke luar negeri.” Aku lantas duduk di sofa dan melamun.

Dalam situasi yang hening, tiba-tiba terdengarlah suara ketukan pintu dari arah luar rumah. Sejenak aku berpikir, “Ini pasti Aubameyang. Nanti dia akan aku ajak main game FIFA, ah,” ucapku sembari berjalan menuju ke pintu teras rumah.

Sontak aku kaget. Ternyata orang yang mengetuk pintu bukanlah Aubameyang, melainkan seorang cewek yang turun dari mobil Ferrari. Kulihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia terlihat sangat cantik. Rambut yang terurai panjang membuatnya terlihat begitu feminim. Kulitnya yang putih bersih menandakan dia dari golongan orang kaya. Hatiku berdebar kencang.

Sambil tersenyum. “Permisi ... namaku Marina, aku ingin bertanya. Apakah kamu tahu alamat rumahnya Pak Thomas Tuchel?” tanya seorang cewek yang kini dapat dikenali dengan nama Marina. Aku yang berada di depannya spontan mengalami salah tingkah.

Dengan nada terbata-bata, aku menjawab, “Namaku Re ... re ... re ....”

“Hah—” Marina merasa bingung dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Kamu kenapa?” lanjutnya. Dia memandangiku seperti ada yang aneh.

Akhirnya aku menjadi sadar kembali. “Eh, enggak kok. Namaku Marco Reus. Biasa dipanggil dengan nama Reus. Oh, ya, kamu tadi tanya apa?” balasku kepadanya.

“Ya ampun ... aku tadi tanya alamat rumahnya Pak Thomas Tuchel,” tegas Marina kepadaku.

Sambil mengarahkan jalan, aku berkata, “Oh ... jadi begini. Alamat rumahnya Pak Thomas Tuchel yaitu, kamu lurus ke arah jalan ini. Saat ada pertigaan, belok ke kanan. Nah, di situ ada angkringan, terus cari rumah yang catnya berwarna kuning-hitam! Di sanalah rumahnya.”

“Baiklah ... sebelumnya aku ucapkan terima kasih, ya,” kata Marina sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Dia pun kembali masuk ke dalam mobil Ferrari-nya dan melanjutkan perjalanan.

Kejadian ini membuatku bertanya-tanya mengenai sosok cewek tersebut. Aku berpikir kalau dia akan tinggal dan menetap di sekitar komplek ini. Tiba-tiba, aku teringat kalau besok hari Senin akan ada razia rambut panjang (khusus laki-laki). Kuputuskan kalau hari Minggu ini aku akan potong rambut di tempat biasa.

Kulihat bensin yang ada di tangki motorku sepertinya habis. Mau tidak mau aku harus menggunakan sepeda BMX. Dengan segera, aku bergegas menuju ke tempat potong rambut. Sesampainya di sana, kebetulan tidak antre. Aku pun langsung mendapat pelayanan dari karyawannya.

“Rambutnya mau dipotong seperti gaya apa, Mas?” tanya sang pencukur rambut. Kebetulan tukang cukur rambutnya adalah cewek, jadi akan lebih santai saat proses mencukurnya.

“Seperti biasa, Mbak ... aku ingin rambutku dipotong dengan gaya undercut. Aku suka sekali gaya potongan rambut itu, hehe,” jawabku dengan ekspresi nyengir ke arah kaca. “Ngomong-ngomong, salon ini tutupnya jam berapa kalau boleh tahu, Mbak?” lanjutku bertanya..

“Oh ... salon ini biasanya akan tutup sekitar jam 09:30 malam, Mas. Tergantung pelanggannya juga, sih,” ujar sang pencukur rambut, sembari melanjutkan tugasnya.

“Oh ... jadi begitu. Baguslah,” sahutku dengan melihat ke arah kaca dan memandangi rambutku. Aku merasa tambah ganteng setelah dipotong gaya undercut.

Tak lama setelah itu, selesai sudah proses potong rambutnya. Aku kemudian kembali ke rumah. “Terima kasih, ya, Mbak ... ini uangnya dan ambil saja kembaliannya,” ucapku tersenyum kepada sang pencukur rambut.

“Oh, ya. Terima kasih ... tapi uangnya masih kurang ini, Mas,” balasnya sambil memasang raut muka cemberut.

“Eh, busyet, dah ... maaf, maaf, ini uangnya yang kurang tadi,” kataku sambil menyodorkan uang kepadanya. Dia pun menerimanya.

Setelah potong rambut, aku benar-benar percaya diri dan tentunya merasa tambah ganteng. Saat aku mengendarai sepeda BMX menuju rumah, entah kenapa banyak orang-orang yang memandangiku seperti terpesona. Terutama para cewek, mereka tersenyum melihatku. “Aneh ... kenapa mereka melihatku seperti itu, ya?” gumamku dalam hati. Kebetulan aku tidak terlalu menghiraukannya.

~o0o~

Sesampainya di rumah, aku terkejut. Ternyata kakakku sudah pulang dari Universitas Mrxiverein. Aku mencoba bertanya kepadanya. “Loh, ternyata kakak sudah pulang?”

“Iya, Dek ... ternyata pertemuan di kampus secepat ini. Hehe.” Dia kemudian menaruh tasnya di atas sofa. “Kamu sudah makan atau belum?” lanjut kakakku bertanya.

“Belum,” sahutku tegas.

Sejenak aku kemudian bercermin di kaca ruang tamu. Kutatap potongan rambut baruku. Aku tersenyum. Ternyata benar, potongan rambutku sangat keren. “Kak, menurutmu potongan rambutku keren atau tidak? Aku tadi baru saja potong rambut, loh.” Aku bertanya kepada kakakku yang sedang menata buku di dalam tasnya.

Sambil tersenyum menatapku. “Iya, iya, kamu tambah guanteng. Tapi, apakah potongan rambut seperti itu tidak melanggar aturan sekolah?” tanya balik kakakku.

Sambil mengacungkan jempol. “Sepertinya tidak, Kak,” kataku.

Keesokan harinya ....

Jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi. Aku lantas segera bersiap untuk pergi ke sekolah tercinta, yakni SMA Himawariverein. Kuhidupkan mesin motor Kawasaki Ninja dan aku langsung berpamitan kepada kakak. “Kak, aku sekolah dulu,” teriakku sembari mengklakson.

“Iya, hati-hati dan jangan pecicilan di jalan, ya, Dek!” balas kakakku dari dalam rumah. Kebetulan di hari Senin, dia masuk kelas sore.

Tak lama setelah itu, aku telah sampai di sekolah. Kuparkirkan motorku di bawah pohon kelapa supaya tidak kepanasan. “Bro.” Terdengarlah suara yang tak asing berada di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan tersenyum. Ternyata Aubameyang memanggilku.

“Ada apa, Bro?” tanyaku kepadanya.

“Wah, ternyata kamu potong rambut. Jadi begini, Bro. Katanya di sekolah kita akan ada murid pindahan baru dari SMA Sakuraverein.” Aubameyang mencoba memberitahuku. Kami berdua lalu berjalan menuju ke ruang kelas.

Setelah Aubameyang mengatakan hal itu, aku merasa curiga. Aku berpikir kalau murid baru itu adalah cewek yang beberapa waktu lalu aku temui. Agar tidak penasaran, aku bertanya, “Memangnya murid barunya laki-laki atau perempuan, Bro?”

“Perempuan, Bro,” jawab Aubameyang. “Kata orang-orang, dia cantik dan pintar. Namanya Manari ... Marina ... atau Marani, ya? Aku malah lupa, Bro,” lanjut Aubameyang, sambil menepuk keningnya.

“Hah, jangan-jangan murid baru yang dimaksud Aubameyang adalah Marina. Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke rumahku dan bertanya lokasi rumahnya Pak Thomas Tuchel,” ucapku dalam hati.

Bersambung ....

Daftar Episode

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel