BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Senin, 06 Maret 2017

Cahaya di Langit Dortmund 1: Adu Taktik Ketajaman Skuat (Bagian 1)

Cahaya di Langit Dortmund 1:
“Adu Taktik Ketajaman Skuat”
(Bagian 1)


Informasi
Judul:
Cahaya di Langit Dortmund 1: Adu Taktik Ketajaman Skuat
(Bagian 1)
Pembuat:
Beny Oki Sugiarto
Genre:
Persahabatan, Olahraga, Fiksi Penggemar
Rating:
General
Pemeran:
● Borussia Dortmund:
- Roman Bürki (Kiper)
- Matthias Ginter (Bek)
- Mats Hummels (Bek)
- Sokratis (Bek)
- Marcel Schmelzer (Bek)
- Julian Weigl (Gelandang)
- Ilkay Gündogan (Gelandang)
- Henrikh Mkhitaryan (Gelandang)
- Shinji Kagawa (Gelandang)
- Marco Reus (Gelandang) ★
- Pierre-Emerick Aubameyang (Penyerang)
- Sisanya pemain dan pelatih Borussia Dortmund

● FC Bayern München:
- Manuel Neuer (Kiper)
- Philipp Lahm (Bek)
- Jérôme Boateng (Bek)
- Javi Martínez (Bek)
- David Alaba (Bek)
- Xabi Alonso (Gelandang)
- Thiago Alcântara (Gelandang)
- Mario Götze (Gelandang)
- Arjen Robben (Gelandang)
- Thomas Müller (Penyerang)
- Robert Lewandowski (Penyerang)
- Sisanya pemain dan pelatih FC Bayern München

- Kanty Widjaja (Wartawan)

München, Jerman, malam hari.

Suara gemuruh suporter masih terdengar hingga 15 menit menuju babak kedua berakhir. Skor 1-1 masih terpampang di papan skor sudut tribun Stadion Allianz Arena. Tak henti-hentinya mereka terus memompa semangat kami yang sedang beradu kemampuan. Meski begitu, harapan untuk meraih kemenangan sudah ada di depan mata kami. “Hey! Konsentrasi, Reus,” teriak sang pelatih dari arah kejauhan. Teriakannya membuat kami semua teringat akan strategi yang sebelumnya dia perintahkan.

“Baiklah, aku akan berkomunikasi kepada teman-teman yang lain,” balasku kepadanya, sambil menghadang penyerang Bayern München.

Terus saja Lewandowski, Götze, dan Müller menggempur pertahanan kami. Hampir setengah pemain kami menempati zona bertahan. “Hey, kalian semua bersiap! Mereka akan melakukan umpan terobosan,” seru Hummels yang sedang berkoordinasi kepada Ginter, Schmelzer, dan Sokratis yang mengisi sektor pertahanan tim kami, Borussia Dortmund.

“Kami paham!” sahut mereka bertiga bersamaan. Barisan pertahanan Borussia Dortmund bersiap menghadapi umpan terobosan yang dilancarkan lini serang Bayern München.

Lewandowski benar-benar tidak dijaga pergerakannya. Tidak ada cara lain selain menjatuhkannya. Aku yang berdiri di sektor depan melihat ada sebuah insiden. Ternyata Hummels mendorong Lewandowski hingga terpental keluar lapangan. Seketika itu terdengar suara peluit dari wasit. Pertandingan dihentikan sesaat. Tak lama setelah wasit memberi kartu kuning kepada Hummels, justru Müller memprovokasi lewat perkataannya yang membuat situasi menjadi memanas. Sambil mendorong Hummels. “Woy! Doronganmu kepada Lewandowski tadi terlalu berbahaya,” bentak Müller kepada Hummels, penuh emosi.

Hummels tak ingin tinggal diam. Dia merespon perkataan Müller. “Iya aku paham, tapi aku tidak bermaksud begitu,” balasnya dengan tatapan tajam.

Kini, Müller dan Hummels terlibat perselisihan yang sangat serius sehingga membuat wasit terpaksa memberi mereka berdua kartu merah dan mengusirnya dari lapangan. Penonton di dalam stadion pun ikut terpancing emosi. Müller dan Hummels berjalan keluar dari dalam lapangan. Aku mencoba menenangkan mereka berdua. “Hey, tunggu dulu!” ucapku dengan nada keras.

Mereka berdua menoleh ke belakang dan menatapku. Hummels memasang raut wajah menyesal. “Ada apa, Reus?”

“Sudahlah, kalian berdua adalah pemain timnas Jerman. Harusnya kalian memberi contoh yang baik!” ujarku kepada mereka berdua.

Müller terus berjalan meninggalkan lapangan tanpa memedulikan perkataanku, namun Hummels merespon perkataanku. “Ya, aku paham. Baiklah, kau akan menjadi kapten untuk menggantikanku.” Hummels memberikan tanda kapten ke lengan kiriku. Sesaat setelah itu, tanggung jawabku sebagai kapten tim akan diuji.

Wasit pun menyuruhku untuk segera masuk kembali ke dalam lapangan. Timku dan tim lawan kini hanya memainkan 10 orang pemain setelah Müller dan Hummels diusir wasit. Sambil menghampiri rekan-rekanku, aku mencoba memberi sedikit motivasi. “Teman-teman, mohon perhatiannya! Aku ingin kita bermain disiplin dan tetap tenang!”

Perkataanku pun direspon. “Baiklah, kami paham, Reus!” jawab seluruh pemain Borussia Dortmund, kompak.

Wasit kembali melanjutkan pertandingan. Kini, Bayern München mendapat kesempatan tendangan bebas. Götze mengangkat tangan kanan dan bersiap menendang bola ke sektor pertahanan Borussia Dortmund. Kami pun bersiap dengan situasi berbahaya tersebut. Ternyata Götze memilih menendang lewat bola atas. Kami kesulitan mengawal pergerakan para penyerang Bayern München, terutama Lewandowski. Mengejutkan, kami semua benar-benar tak berdaya mengawal pergerakan Lewandowski. Postur tubuh yang tinggi memudahkannya untuk mencetak gol lewat sundulan.

“Toooooooooorrr ....” Suara suporter bergemuruh menyambut gol dari Lewandowski. Kami yang berada di Stadion Allianz Arena hanya bisa tertunduk diam dengan skor 2-1. Tim kami tertinggal.

Bürki menendang tiang gawang. Dia memarahi kami yang tidak fokus dengan tendangan bebas tersebut. “Hey, kenapa kalian tidak fokus?”

Aku mencoba menenangkannya dengan nada halus. “Santai, santai, Bürki!”

“Reus, aku butuh 4 pemain untuk ditempatkan di depan gawang!” balasnya.

Skor 2-1 membuat konsentrasi kami buyar. Kami kesulitan membalas gol tersebut karena waktu sudah memasuki menit ke-90. Aku terus memompa semangat teman-teman, namun keberuntungan tim kami belum hadir untuk saat ini. “Priiiiiiiiiittt ....” Wasit pun meniup peluit pertanda pertandingan telah berakhir. Tim kami kalah di leg 1 semifinal DFB-Pokal.

Kami kembali ke ruang ganti pemain dengan perasaan sedih. Tak disangka-sangka sebelumnya, timku harus kalah saat melawan Bayern München di leg 1 semifinal DFB-Pokal. “Hey, harusnya kalian tadi fokus menjaga pergerakan Lewandowski!” Bürki masih terbawa situasi.

Gündogan menepuk pundak Bürki. “Tenangkanlah dirimu, Bürki! Masih ada leg 2, ’kan?”

“Ah ... aku tahu itu,” ucap Bürki, cemberut.

“Kalau aku tadi mendapat umpan darimu, mungkin aku akan mencetak lebih dari 2 gol,” sela Aubameyang yang mencoba ikut berdialog.

Gündogan menghela napas panjang. “Huh ... tapi posisimu tadi sulit aku jangkau. Kau dikawal ketat oleh 3 bek Bayern München, Auba!”

Tak lama setelah bus tiba, akhirnya tim Borussia Dortmund bersiap untuk segera pulang meninggalkan Stadion Allianz Arena. Di dalam bus, hal-hal lucu dilakukan Aubameyang untuk menghibur teman-teman dengan menyanyikan sebuah lagu reggae. Aku yang mendengarkannya spontan menjadi ikut bernyanyi. Sambil menepuk pundakku, Aubameyang mengajak untuk bernyanyi. “Reus, ayo kita bernyanyi!” pintanya. Aku kurang bisa menguasai lagu reggae. Walau begitu, aku tetap memaksakan untuk bernyanyi.

“Bob Marley masih bernyanyi ....” Aubameyang melanjutkan nyanyiannya sedangkan aku mencoba mengimbanginya. Yang kami berdua lakukan ini membuat teman-teman yang lain menjadi tersenyum setelah sebelumnya bersedih karena mengalami kekalahan ketika melawan Bayern München.

~o0o~

Dortmund, Jerman, pagi hari.

Hari telah berganti. Saat itu aku melakukan lari pagi di tempat latihan tim Borussia Dortmund agar performaku tidak berkurang. Aku mengelilingi lapangan sebanyak 15 kali. Di sana, aku bertemu dengan Aubameyang yang juga terlihat sedang melakukan lari pagi.

Aubameyang menghampiriku, sambil melakukan toss. “Reus! Apa kau juga sedang lari pagi?”

“Yo’i, Bro!” balasku. Kami berdua akhirnya duduk bersama sembari melepas lelah setelah melakukan lari pagi.

Tak lama setelah itu, datanglah seorang wartawan berita olahraga. Sekitar 3 orang datang menghampiri kami berdua. “Halo, bisa minta waktunya sebentar? Kami ingin mewawancarai kalian berdua,” ucap sang wartawan yang belum diketahui namanya.

Aubameyang tersenyum. “Oh, ya! Silakan bertanya kepadaku.”

Sebuah pertanyaan dari sang wartawan ditujukan kepadanya. “Mengapa Anda dijuluki sebagai mesin gol Borussia Dortmund?”

“Entahlah, mungkin karena aku sering mencetak hat-trick di beberapa pertandingan. Tapi tanpa pemain lain, aku tak akan mampu mencetak gol,” jawab Aubameyang, merasa sedikit malu.

Setelah wawancara dengan Aubameyang selesai, kini giliranku yang akan diwawancarai. Sang wartawan bertanya kepadaku. Tatapan matanya sepertinya ada maksud lain. “Marco Reus! Dalam setiap pertandingan, Anda selalu terlihat rapi, terutama dari potongan rambut. Apa yang membuat Anda selalu tampil rapi?”

“Hey, kenapa pertanyaannya tentang potongan rambut?” sela Aubameyang, memprotes.

Aku pun menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut dengan perasaan grogi. “Menurutku, penampilan itu sangat penting karena dapat mempengaruhi kepercayaan diri di atas lapangan.” Ketika aku menatap wajah wartawan tersebut membuatku teringat kepada seseorang.

Sesi tanya jawab telah selesai. Tiga orang wartawan yang mewawancaraiku dan Aubameyang akan pergi. Namun, aku mencoba memanggil salah satu wartawan tersebut. “Hey, tunggu dulu!” teriakku.

Dia menoleh ke belakang dan menatapku. “Ada apa, Reus?” ucapnya.

“Siapa namamu? Sepertinya kita pernah bertemu di suatu tempat,” tanyaku penasaran.

“Namaku Kanty, lengkapnya Kanty Widjaja. Sudah, ya, kapan-kapan aku akan mewawancarai kalian lagi.” Sang wartawan yang kini dikenal dengan nama Kanty Widjaja pergi meninggalkan kami berdua.

“Kanty Widjaja? Nama itu sepertinya tidak asing di pikiranku,” ucapku dalam hati.

“Hey, hey, Reus! Ada apa denganmu? Siapa wartawan wanita tadi?” Aubameyang bertanya kepadaku. Namun, aku tidak akan memberitahu tentang Kanty kepadanya. “Bukan siapa-siapa, hehe ...,” ucapku, sembari tersenyum.

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09:57. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kuhidupkan mesin mobilku dan segera bergegas. Aubameyang masih berada di tempat latihan tim Borussia Dortmund. Entah, apa yang akan dia lakukan di sana.

~o0o~

Hari berikutnya ....

Sehari jelang pertandingan leg 2 semifinal DFB-Pokal, seluruh pemain Borussia Dortmund berkumpul dan melakukan latihan ringan di Stadion Signal Iduna Park. Mereka yang hadir kemudian diberi instruksi langsung dari pelatih kami, Thomas Tuchel. Sambil membuka lembaran catatan yang dibawanya, Tuchel kemudian menginstruksikan kepada kami. “Tolong dengarkan aku! Saat ini, tim kita kalah agregat gol 2-1 dari Bayern München. Aku ingin kalian fokus dan jangan main-main di leg 2 nanti!”

Sesaat setelah instruksi tersebut, Bürki kemudian mengangkat tangan kanannya. “Pelatih, aku ingin bek yang diturunkan nanti harus benar-benar siap!” ucapnya penuh harapan. Beberapa pemain pun menatap ke arahnya.

“Ya, aku mengerti. Lagi pula Mats Hummels terkena akumulasi kartu merah dan tidak bisa tampil di leg 2 besok,” ujar Tuchel dengan menyembunyikan rasa kekecewaannya.

Pertanyaan besar ada di benak pikiran Aubameyang sebab Mats Hummels tidak akan tampil besok. “Pelatih, lalu siapa yang akan menjadi kapten untuk menggantikannya?” tanya Aubameyang, penasaran.

Tuchel menutup buku catatannya. “Tenang! Tentunya aku sudah memikirkan hal ini, Auba.”

Para punggawa Borussia Dortmund menunggu keputusan Tuchel. Ketegangan menghinggapi hati para pemain. Sambil menghela napas panjang, Tuchel berkata, “Huuuh ... sudah aku putuskan! Yang akan menjadi kapten adalah ....” Tuchel menghentikan ucapannya sesaat. Para pemain menatap ke arahnya. “.... Reus!” lanjutnya. Namaku diucapkan oleh Tuchel. Hal ini membuatku menjadi kapten untuk menggantikan Mats Hummels yang pada pertandingan sebelumnya sempat menerima kartu merah.

“Aku menjadi kapten lagi?” ucapku dalam hati. Seakan tidak percaya, tetapi aku bersyukur atas keputusan dari pelatih.

“Baiklah, sepertinya itu saja dariku. Kita lanjutkan latihannya!” ujar Thomas Tuchel, menutup pembicaraan.

~o0o~

Dortmund, Jerman, sore hari.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sore itu, kami dan seluruh pemain mempersiapkan diri untuk segera menghadapi Bayern München. Agregat 2-1 mengancam tim kami untuk bisa lolos ke partai final. Butuh dua gol untuk memastikan lolos ke final.

Suara teriakan suporter di Stadion Signal Iduna Park terdengar sampai di ruang ganti pemain. Hal itu membuat kami yang mendengarnya menjadi termotivasi untuk tampil bagus. Wasit sudah berdiri di dekat pintu masuk lapangan. Kedua tim sudah bersiap. Kami pun mulai berjalan menuju ke lapangan. Aku menatap ke seluruh sudut tribun di Stadion Signal Iduna Park. Dengan fanatiknya mereka menyuarakan sebuah dukungan kepada kami semua.

Nama-nama pemain Borussia Dortmund diteriakan para suporter yang mengisi bangku di tribun stadion. “Reus! Aubameyang! Mkhitaryan! Gündogan! Kagawa!”

Sambil berjalan. “Teman-teman, jangan kecewakan publik Dortmund yang telah meluangkan waktu untuk mendukung kita!” kataku dengan memberi semangat.

“Aku tahu itu, Reus! Kita akan berusaha mencetak minimal 2 gol ke gawang Bayern München demi lolos ke partai final,” balas Mkhitaryan yang saat itu sedang mengepalkan tangan.

Pertandingan leg 2 semifinal DFB-Pokal antara Borussia Dortmund melawan Bayern München akan segera dimulai. Ketegangan sempat muncul dari kedua tim. Tak lama setelah itu, wasit pun meniup peluit pertanda babak pertama dimulai.

Bersambung ....

Daftar Bagian

5 komentar:

  1. Ini adalah fanfiction lama saya, tapi sudah mengalami penyuntingan. Selamat membaca, Bro.

    BalasHapus
  2. Kalah 2-1 tapi tetap berusaha happy haha, weh sekasar itukah permainan, eh iya ini bukan sekedar permainan, Wartawan? Kurasa kalau dari namanya sih perempuan, hehe
    ok semoga aku bisa baca sambungannya, pengen tahu hasil akhir dari pertandingan yang cukup menguras energi dan emosi ini

    BalasHapus
  3. Alah, asyiknya baca malah bersambung, baiklah sabar menanti kelanjutannya dan ingin tahu dari akhir pertandingan yang menegangkan, seperti saat menyaksikan di tv. Hehe

    BalasHapus

Cari Artikel