BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Kamis, 23 Februari 2017

Pintu Gerbang Masa Lalu - Episode 3

Pintu Gerbang Masa Lalu
(Episode 3)


Pintu Gerbang Masa Lalu

Informasi
Judul:
Pintu Gerbang Masa Lalu
(Episode 3)
Pembuat:
Beny Oki Sugiarto
Genre:
Aksi, Petualangan, Fantasi
Rating:
General
Pemeran:
1. Kamiya Erina (Steam Girls): Adalah seorang puteri di Negeri Sakuravania. Memiliki kepribadian yang bijaksana dan setia kawan. Namun dia mempunyai kelemahan, salah satunya takut dengan darah.

2. Lidya Maulida (JKT48 - Tim KIII): Merupakan seorang siswi di SMA Himawariverein, kelas XII A. Olahraga favoritnya adalah badminton. Lidya mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalani setiap aktifitasnya.

3. Shani Indira (JKT48 - Tim T): Merupakan seorang siswi di SMA Himawariverein, kelas XII A. Dia mempunyai sifat yang cuek, namun orangnya asyik untuk diajak ngobrol. Di sekolahnya, dia adalah ketua OSIS yang terkenal dengan sifat feminim.

4. Sinka Juliani (JKT48 - Tim KIII): Merupakan seorang siswi di SMA Himawariverein, kelas XII A. Mempunyai sifat yang humoris. Selain itu Sinka juga pandai dalam bernyanyi. Berbagai prestasi telah berhasil diraihnya.

Keindahan hutan di Negeri Sakuravania membuat Lidya dan Shani takjub, namun tidak untuk Sinka. Dia merasa takut ketika berada di sana. Tak lama setelah itu, mereka pun sampai di depan sebuah istana yang cukup megah. Di dekat pintu gerbang, mereka disambut hangat oleh para pengawal istana. Kini, tanda tanya besar ada di benak pikiran Shani, Sinka, dan Lidya. Sampai saat ini, mereka bertiga benar-benar dibuat bingung oleh Erina.

“Selamat datang, Puteri Erina!” ucap salah satu penjaga istana sembari membuka gerbang pintu masuk.

“Puteri?” gumam Sinka, terkejut. Gerbang istana dibuka, Erina mengajak Shani, Sinka, dan Lidya untuk segera masuk ke dalam.

Erina menatap kepada mereka bertiga dengan senyuman. “Ayo, masuklah!”

“Wow! Tempat ini benar-benar megah,” ujar Shani sambil menggaruk-garuk kepala. Tatapannya tertuju di sekitar sudut ruang istana. Selama ini, dia belum pernah datang ke sebuah tempat dengan arsitektur yang berkelas.

“Hey, Lidya!” Sinka mendekatkan bibirnya ke telinga Lidya. “Sepertinya Erina itu seorang puteri, atau mungkin dia itu pemimpin di tempat ini,” lanjutnya berbisik.

“Bisa jadi itu, Sin,” balas Lidya, lirih.

Tak lama setelah mereka masuk ke dalam istana, Erina menyuruh Sinka untuk segera mengobati luka bekas cakaran zombie. Dia mengajaknya untuk menemui seseorang yang pandai mengobati setiap luka. Sinka merasa gugup ketika bertemu dengan orang yang akan menyembuhkan lukanya. “Kamu kenapa?” ucap seseorang tersebut.

Sinka menjawabnya dengan rasa gugup. “Lengan kiriku terkena cakaran zombie.”

“Zombie? Coba ulurkan lengan kirimu!” ujar seseorang yang akan mengobati Sinka. “Oh, kalau tidak cepat diobati takutnya akan terjadi hal-hal yang tidak terduga.”

“Terjadi hal-hal yang tidak terduga bagaimana maksudmu?” Sinka mulai panik. Beberapa menit kemudian, lengan kiri Sinka sudah selesai diobati. Kini dia harus beristirahat total.

Di tempat lain, Erina mengajak Shani dan Lidya untuk mendengarkan ceritanya mengenai kejadian yang kini melanda Negeri Sakuravania.

Mereka bertiga duduk dalam satu ruangan. “Sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada kalian yang telah menyelamatkanku dari sergapan seekor singa pada waktu itu,” ucap Erina dengan senyuman.

“Oh, kejadian yang itu, ya? Jangan dibahas lagi. Kami ikhlas menolong orang yang dalam bahaya, kok,” sahut Shani.

“Jadi begini ceritanya. Beberapa hari ini, Negeri Sakuravania berubah menjadi mengerikan. Entah, aku sendiri kurang tahu apa yang terjadi. Banyak zombie yang menyerang penduduk di sini.” Erina menjelaskan kronologi tentang penyerangan zombie di Negeri Sakuravania.

“Tunggu dulu!” sela Lidya, sambil mengangkat tangan kanannya. “Lalu, kau ini siapa sebenarnya?” lanjutnya. Situasi menjadi hening sesaat.

“Heh, Lidya! Kamu ini apa-apaan, sih? Sopan sedikit, dong!” protes Shani kepada Lidya.

Sambil tersenyum, Erina pun menjawab, “Tidak apa-apa, kok. Maaf sebelumnya karena perkenalan kita belum selesai. Sebenarnya aku ini adalah seorang puteri di Negeri Sakuravania.”

Seakan tidak percaya, kini Lidya meminta maaf kepadanya atas ucapan yang kurang sopan tadi. “Hah, kau adalah seorang puteri? Maaf atas perkataanku yang lancang.” Lidya meminta ma'af dan menundukkan kepalanya.

“Tok! Tok! Tok ....” Terdengarlah suara ketukan pintu dari arah luar. Tak lama setelah pintu dibuka, mereka bertiga yang berada di dalam ruangan menjadi terkejut. Mereka mengamati ke arah pintu dengan seksama. Ternyata orang yang berada di dekat pintu adalah Sinka.

“Kenapa kalian semua meninggalkanku sendirian, sih?” ucap Sinka, cemberut.

“Lengan kirimu sudah selesai diobati, Sin?” tanya Lidya datar.

“Ya, sudah, Lid!” balas Sinka sembari duduk di kursi.

Erina melanjutkan penjelasannya. “Jadi begini, apakah kalian bertiga bersedia membantuku untuk melawan para zombie yang mengancam penduduk di Negeri Sakuravania?”

“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kami bertiga masih sekolah, belum saatnya untuk berperang!” sahut Sinka dengan lantang.

Shani mencoba meredam amarah Sinka. “Hentikan, Sin!”

“Apakah kau yakin dengan kemampuan kami? Soalnya kami tidak pandai bertarung,” ucap Shani kepada Erina.

“Ya, aku paham situasi kalian saat ini. Setelah kalian menyelamatkanku dari serangan singa pada waktu itu, aku percaya kalian bisa. Aku melihat cahaya harapan di mata kalian,” tutur Erina penuh harapan.

“Kau dengar itu, Lid? Bagaimana denganmu?” ucap Shani lirih, sambil menatap wajah Lidya.

“Baiklah, kami bersedia membantu untuk melawan para zombie!” ujar Lidya penuh ketegasan. Shani hanya tersenyum, pertanda dia setuju dengan ungkapan Lidya.

“Ya ampun, apa yang mereka pikirkan, sih?” ucap Sinka dalam hati. Sinka berbeda pendapat.

Keesokan harinya, Erina melatih Shani dan Lidya untuk bertarung. Dia mengajarkan caranya menyerang dan bertahan.

Sambil menyodorkan pedang, Erina berkata, “Ini senjata kalian, ambilah!”

Lidya pun mengambil sebuah pedang yang sangat tajam. “Pedang?”

Shani dan Lidya mengikuti setiap gerakan yang diajarkan Erina kepadanya. Sinka yang melihat latihan mereka dari kejauhan hanya bisa geleng-geleng kepala. “Aduh, apa yang mereka berdua pikirkan, sih? Mau-maunya mereka menerima permintaan dari orang yang tidak dikenal,” ucap Sinka dalam hati dengan memasang raut muka cemberut. Dia duduk di bawah pohon, sembari mengamati.

Latihan yang dilakukan Erina, Sinka, dan Lidya berlangsung sekitar dua jam. Tak lama setelah itu, mereka kemudian beristirahat.

“Walau hanya latihan, tapi benar-benar bikin capek, ya,” ucap Lidya terbata-bata.

“Rasanya jadi ngos-ngosan, nih,” tambah Shani, sambil meminum air putih.

“Kalau sudah terbiasa tentunya tidak begitu cepat capek, kok,” tutur Erina.

Malam harinya ....

Sinka tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia mendengar sebuah suara bisikan yang tidak begitu jelas arah datangnya. “Sinka ... Sinka ... datanglah kepadaku.” Bisikan misterius di telinganya terus saja terdengar. Dia melihat di sekelilingnya, namun tidak menemukan orang yang berbisik. Dia pun menyadari kalau kejadian buruk akan segera dialaminya. Rasa sakit di bagian kepala mulai dirasakan. Kuku di jari-jarinya mulai memanjang. Matanya memerah dan taring giginya mulai tumbuh. Kesadarannya sedikit demi sedikit mulai menghilang.

“Ada apa denganku?” Sinka berkata dalam hati.

Tak berlangsung lama setelah kejadian itu, kini tubuhnya sulit dikendalikan. Dia bergerak sendiri tanpa perintah dari pikirannya. Dia keluar dari istana tanpa sepengetahuan orang-orang di sana.

Keesokan harinya ....

Seisi istana panik setelah mendengar kabar kalau Sinka menghilang. Erina sebagai pemimpin pun menyuruh para penjaga untuk segera mencari keberadaannya, tetapi tetap tidak menemukannya. “Lapor! Kami tidak berhasil menemukan si Sinka, Puteri Erina,” ucap salah satu penjaga istana.

“Aduh! Ya sudah, kembali lanjutkan pencarian di taman!” pinta Erina untuk kedua kalinya.

Para penjaga pun melanjutkan pencariannya. “Siap!”

Kejadian ini membuat Erina panik. Kini dia memanggil Shani dan Lidya untuk berdiskusi. “Shani dan Lidya! Sepertinya teman kalian telah menjadi ....” Erina menghentikan sesaat ucapannya. Hal itu membuat Shani dan Lidya ikut panik.

“Menjadi apa? Tolong katakan kepada kami!” tanya Shani penasaran.

“.... zombie!” lanjut Erina.

“Tidak mungkin!” ucap Shani, sembari menutup mulutnya.

Di tengah-tengah kepanikan tersebut, Lidya mempunyai sebuah ide. “Aku punya ide. Bagaimana kalau kita bertiga mencari Sinka secara langsung, ada yang setuju denganku?”

“Aku setuju dengan idemu, Lid,” jawab Shani.

“Aku juga berpikir seperti itu,” sahut Erina.

Rencana sudah dipikirkan secara realistis. Mereka bertiga, yakni Erina, Lidya, dan Shani mempersiapkan persenjataan yang akan menjadi amunisi mereka dalam bertarung melawan para zombie. “Kalian berdua, pakailah seragam perang ini,” perintah Erina sembari memberikan jubah layaknya seorang pendekar kepada Shani dan Lidya.

“Bukannya ini sebuah jubah? Apa ini tidak berlebihan?” gumam Lidya.

“Tentu tidak, Lid. Kita ’kan berada di era klasik,” sela Shani sedikit tersenyum.

“Jubah ini akan melindungi tubuh kita saat sedang bertarung,” tutur Erina ketika menjelaskan kepada mereka berdua.

Persiapan telah selesai. Kini Erina, Shani, dan Lidya akan segera mencari keberadaan Sinka yang telah terkena pengaruh zombie. Mereka bertiga akan bertindak cepat agar tidak terjadi hal-hal buruk kepada Sinka.

Bersambung ....

Daftar Episode

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel