BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Selasa, 17 Januari 2017

Memoria - Episode 3

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu. Tokoh utama di cerita ini diambil dari 4 member idol group underground beraliran musik pop, rock, metal, dan electronic-pop, yakni Kamen Joshi. Mereka adalah Anna Tachibana, Mayu Kusunoki, Moa Tsukino, dan Sakura Nodoka.
Cerita:
Cerita ini berawal ketika Anna diculik oleh tiga orang tak dikenal. Anna adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya. Penculik menginginkan tebusan uang dalam jumlah yang banyak kepada orangtuanya Anna. Ketika dalam penyekapan, Anna berhasil meloloskan diri. Dia terus berlari menjauhi para penculik. Nasib buruk menimpanya ketika dia mengalami kasus tabrak lari oleh orang tak dikenal. Dia kemudian ditemukan tak sadarkan diri oleh Mayu di pinggir jalan. Seketika itu ingatannya menghilang.

【Memoria】



(Episode 3 - Perselisihan Nodoka dan Mayu)

Kini Mayu sudah mengetahui seorang wanita yang tak lain dan tak bukan bernama Anna.

“Anna ... namamu Anna.” Mayu mencoba memberitahu.

Anna masih belum bisa mengingat namanya. “Anna, siapa Anna?”

“Ya kamu,”–sembari menunjukkan name tag, Mayu berjalan mendekat–“ini ... bukankah ini name tag kepunyaanmu?”

“Name tag?” tanya Anna, lirih.

Mayu kini sudah bisa bernapas lega. Dia akhirnya perlahan mengetahui identitas seorang wanita yang ditolongnya. “Anna, mari kita kembalikan ingatanmu.”

Anna masih merasa bingung. Beberapa kali dia mengingat, tetap saja ingatannya belum pulih. “Memangnya ada apa denganku?”

“Hah—” Mayu kembali terkejut, namun dia belum ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Anna.

“Oh, ya, jadi begitu,”–Mayu menaruh name tag di atas meja–“sepertinya kamu perlu istirahat total.”

Perlahan, Mayu berjalan keluar dari tempat tidurnya. Wajah sedih masih terpancar. Terlihat jelas jika Mayu mendapat tanggungan setelah kedatangan Anna.

Mayu berjalan ke ruang tamu. Dia duduk di sebuah sofa yang empuk. Dilihatnya sebuah jendela yang di luarnya terlihat beberapa ekor burung yang hinggap di pepohonan. Meski demikian, tatapannya kosong. Pikirannya masih bingung. Tak lama, sebuah suara bel terdengar. Mayu berjalan membuka pintu. Pintu dibuka, terlihat sosok sahabat terbaiknya datang berkunjung ke rumahnya.

Wajah muram Mayu berubah menjadi ceria. “Moa!”

Sambil membuka kacamata hitamnya, Moa berkata, “Iya, ada apa, Mayu?”

“Akhirnya ....” Mayu memeluk erat sahabatnya tersebut.

“Ih, ada apa, sih?” tanya Moa kepada Mayu.

“Syukurlah kau datang,”–Mayu menarik tangan Moa, mengajak masuk ke ruang tamu–“duduklah!”

Moa merasa heran, sebab tak seperti biasanya tingkah Mayu berubah seperti itu.

“Sebentar, ya,”–Mayu berjalan ke dapur–“aku ambil makanan dan minuman dulu.”

“Harusnya tidak usah repot-repot.” Moa mengambil ponsel yang dia taruh di tas.

Tak berselang lama, Mayu datang membawa jus jeruk dan beberapa makanan kecil. Mayu duduk bersebelahan dengan Moa.

“Huh ....” Terdengar suara hela napas Mayu.

“Jadi, apa permasalahannya?”–Moa meminum jus jeruk–“parah, ya?”

Mayu memegangi kepalanya. “Ya, seperti itulah.”

Situasi menjadi hening sesaat. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Mayu dan Moa. Keduanya menatap arah yang berlawanan, membayangkan suatu hal yang mengganjal pikiran.

“Moa, aku akan ceritakan suatu hal. Aku ingin kau ikut membantuku. Kau janji, ya.” Mayu berucap demikian, berharap Moa bisa memberinya pencerahan.

“Kenapa?” balas Moa dengan rasa penasaran. Secara pasti, Moa belum begitu tahu maksud dari ucapan Mayu.

Mayu berkata, “Aku tadi menolong orang asing, tepatnya di jalanan,”–sembari meminum–“dia tergeletak. Parahnya lagi ... ingatannya menghilang.”

Moa menaruh jari telunjuknya di bibir. “Jadi, ini permasalahannya sehingga kau menyuruhku datang ke sini?”

“Iya, Moa. Tolong bantu aku untuk mengembalikan ingatannya.” Kedua mata Mayu mendadak berkaca-kaca.

Pandangan Moa teralihkan ke atas. “Lho, kenapa begitu? Bawa saja dia ke kantor polisi. Masalah akan selesai.”

Mayu menentang ucapan Moa. Dia merasa tidak setuju. “Tidak bisa! Aku merasa kasihan kepadanya, Moa. Aku merasa penasaran dengan yang sedang terjadi. Mungkin kita bisa menolongnya untuk memecahkan kasus ini.”

“Hah, apa?” sahut Moa, wajahnya tersenyum tidak terima. “Kau pasti sudah gila, Mayu. Kita bukan detektif atau juga polisi.”

“Iya, aku mengerti. Maka dari itu, aku ingin kau juga ikut terlibat dan membantuku, Moa,” pinta Mayu, penuh rasa harap.

Moa sejenak memandang wajah sahabatnya tersebut. Moa tak langsung menjawab, namun akan mempertimbangkan kembali. “Huh ... baiklah. Aku tak tega.”

Wajah muram Mayu berubah menjadi ceria kembali. “Berarti kau mau membantuku?”–Mayu kembali memeluk erat Moa–“yeay!”

Moa menahan sakit, dadanya sesak. “Eh ... eh ... sudah ... sudah, Mayu ... lepaskan! Ih, kau ini.”

Mayu menyipitkan kelopak matanya. “Jadi, apa rencana kita?”

“Hahaha,”–Moa tertawa kecil–“orang yang kau tolong tadi sebaiknya ....”

Moa menahan perkataannya sehingga membuat Mayu menjadi bertanya-bertanya. “Sebaiknya diapakan, Moa?”

“Biarkanlah dia menetap di rumahmu dulu.” Moa berbicara demikian. Hal ini terasa aneh sebab idenya terkesan sederhana dan justru membuat Mayu berpikir dua kali.

“Widih,”–telapak tangan Mayu menepuk keningnya–“kalau begitu ini sama saja.”

Moa kembali meminum jus jeruk. “Ya, mau bagaimana lagi, Mayu. Ini butuh proses yang bertahap.”

Wajah Mayu berubah menjadi muram kembali. “Ya, aku tahu. Semoga saja kedatangannya tidak membuatku terbebani.”

Moa berdiri. “Baiklah, sepertinya aku harus pulang. Bye!”

Mayu merasa kecewa kepada Moa. Dia yang awalnya bisa mendapatkan pencerahan namun justru yang didapat hanya sebatas gurauan belaka.

Hari berikutnya ....

Hari Senin, pukul 06:00 pagi, Mayu bersiap melakukan aktifitas seperti biasa, yakni bekerja di restoran cepat saji. Sebelum berangkat, Mayu melihat Anna dari bilik pintu. “Hmm ... tidak ada. Ke mana dia?”

Dengan tiba-tiba, Anna mengagetkan Mayu dari arah belakang. Hal ini sontak membuat Mayu panik. Mayu memegang dadanya dan berkata, “Ya ampun, kau ini!”

“Ada apa? Kaget, ya?” ucap Anna, tersenyum.

Mayu menatap Anna dengan rasa sinis. “Menurutmu bagaimana kalau ada orang yang mengagetkan?”

Dari ucapan Mayu tadi membuat Anna menjadi sedih. Padahal Anna hanya ingin bercanda, namun Mayu sedang tidak ingin bercanda. “Ya sudah. Aku akan pergi bekerja. Kau di sini saja dan jangan keluar rumah, ya. Kau paham, Anna!”

Wajah Anna berubah menjadi muram. “Baiklah.”

Mayu menghidupkan sepeda motornya. Jarak 4 km dari rumah menuju tempat kerjanya tidak menjadi penghalang untuk tetap bersemangat. Di tempat kerja, Mayu dikenal ramah kepada para pelanggan. Tak jarang jika para pelanggan menjadi nyaman, bahkan ada beberapa dari mereka yang mengajak berfoto selfie.

Sesampainya di tempat kerja, Mayu langsung mendapat teguran dari manajernya, Nodoka Sakura. Nodoka adalah seorang manajer restoran cepat saji di tempat Mayu bekerja. Memiliki sifat yang semena-mena. Di samping itu, dia adalah anak dari pemilik restoran. Hubungan antara Nodoka dan Mayu cukup buruk. Mereka kerap kali berseteru hanya karena masalah sepele.

“Stop,”–tangan kanan Nodoka menghentikan langkah kaki Mayu–“tunggu sebentar.”

Mayu menatap Nodoka dengan tajam. “Ada apa?”

“Masih belum sadar juga, ya?” tanya Nodoka. “Kau datang terlambat bekerja selama 3 menit dan itu sangat fatal.”

“Terus ... hanya itu?” balas Mayu dengan nada datar.

Nodoka menarik baju yang dikenakan Mayu. “Kau berada di bawah kendaliku, Mayu!”

“Aku berada di bawah kendalimu, ya? Kau begini juga karena orangtuamu. Ingat itu, Doka.” kata Mayu, tersenyum jahat. “Kancingkan dulu itu kerah bajumu! Dasar tidak sopan kau ini.”

Nodoka melepaskan tarikannya kepada baju yang dikenakan Mayu. Kini dia mengancingkan kerah bajunya. “Heum?”

Saat Nodoka sibuk mengancingkan kerah bajunya, Mayu langsung berjalan masuk tanpa memedulikan ucapan manajernya tersebut.

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Anna Tachibana
2. Mayu Kusunoki
3. Moa Tsukino
4. Sakura Nodoka
Pembuat:
Beňy
Genre:
Persahabatan
Daftar Episode:
» Episode 1 - Langit Mendung
» Episode 2 - Lari, Anna, Lari!
» Episode 3 - Perselisihan Nodoka dan Mayu
» Episode 4 - Petunjuk Pertama
» Episode 5 - Menguak Fakta (Tamat)

2 komentar:

  1. Membaca ceritanya seperti nonton drama saja, mas. Ceritanya mengalir asyik.

    Eh, di daftar baca yg bagian dua aku klik kok gak ada isinya, mas? Cuma ada tulisan 'Halaman yang anda cari tidak ada di halaman ini,' kalau nggak salah.

    BalasHapus

Cari Artikel