BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Kamis, 01 Desember 2016

Agen SA-8F - Episode 7

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu. Kenapa judulnya “Agen SA-8F”? “SA” adalah inisial dari nama Saiki Atsumi sedangkan “8F” adalah tanggal lahirnya, yakni 8 Februari.
Inspirasi:
Cerita ini terinspirasi dari para personel grup band beraliran hard rock dan heavy metal, yakni BAND-MAID.

【Agen SA-8F】



(Episode 7 - Krusial)

Alan melihat sekitar, bersiap untuk mencari celah guna melarikan diri. Meski di sekelilingnya ada banyak tentara yang mengepung, namun dia tetap akan kabur. Rencana dimulai, Alan bersiap untuk berlari. Hanya dalam waktu singkat, dia langsung berlari ke arah kiri. Arah tersebut memang yang paling lengah untuk dijaga.

Atsumi merasa kecolongan dengan pergerakan Alan secara tiba-tiba. “Gawat ....”

“Kejar dia!” seru salah seorang tentara yang berdiri di garis depan. “Jangan sampai lolos!”

Alan yang kala itu dikejar belasan tentara tetap merasa tenang, bahkan sedikit meledek.

Sementara di tempat lain, Liviana sudah mendapat perawatan setelah mengalami penembakan yang dilakukan oleh Alan. Saat ini dia berada di Rumah Sakit yang berada di Departemen Pertahanan Denmark. Di dekatnya ada Misa dan Kanami yang menemani.

“Bagaimana keadaannya?”–Misa menatap wajah Liviana–“ini sangat menyedihkan.”

Kanami membaca tulisan dari dokter di secarik kertas yang dia bawa. “Aku pikir keadaannya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Misa menoleh ke arah Kanami, kedua matanya masih berkaca-kaca. “Benarkah itu?”

“Iya, Misa,” balas Kanami. “Bacalah surat dari dokter ini!”

“Mana-mana?”–Misa membaca secarik kertas tersebut–“aku berharap juga demikian.”

♦—※—♦

Alan masih dikejar oleh Atsumi dan belasan tentara lainnya. “Atsumi, percuma saja kau mengejar. Kau tak akan bisa menangkapku,” ucap Alan, tangannya mengepal ke arah atas.

Laju lari Atsumi semakin melambat, dia mulai kehilangan stamina, nafasnya terengah-engah. “Awas kau—”

Situasi semakin krusial setelah Alan berlari menuju mobil Mercedes-Benz miliknya. Alan merasa yakin jika dirinya mampu lolos dari pengejaran para tentara. “Kalian semua payah!”

Atsumi semakin kehilangan tenaganya saat berlari. Dia pun berhenti, menatap Alan yang berhasil kabur dengan menaiki mobil. “Aduh ... bagaimana ini?”

“Cepat, cepat ... kejar dia.” Para tentara masih berusaha mengejar, sementara Atsumi terlihat pasrah dengan situasi ini.

Cuaca pada waktu itu sedang tidak bersahabat. Langit gelap, suara petir mulai terdengar, dan hujan sebentar lagi akan turun. Atsumi yang kala itu pasrah kemudian mendengar suara langkah kaki. “Siapa itu?” Atsumi belum ingin membalikkan tubuhnya ke arah belakang.

Sebuah tepukan mengarah ke bahu Atsumi. “Hei, apa yang terjadi denganmu?”

Atsumi terkaget. “Suara itu ...,”–dia memutar badannya ke arah belakang–“Miku ... kau?”

Miku menatap Atsumi dengan rasa percaya diri. “Iya, ini aku.”

“Atsumi, ada apa denganmu?” Miku memberi semangat. “Ayo kita tangkap dia!”

Atsumi terkejut dengan perkataan Miku. “Hah ... benarkah itu, Miku?”

“Iya, benar,”–Miku tersenyum manis, matanya menyipit–“kita akan menangkap Alan secara bersama-sama. Itu jauh lebih baik, ’kan?”

Atsumi balas tersenyum. “Ayo, Miku!”

Atsumi dan Miku berjalan ke arah yang lain. Keduanya bergegas menaiki mobil Volkswagen kepunyaan Atsumi. Setelah semua dipersiapkan, pengejaran dimulai. Meski Alan sudah cukup jauh melarikan diri, namun Atsumi dan Miku bersikeras untuk menangkapnya. Cuaca yang tak bersahabat pada waktu itu membuat pandangan Atsumi sedikit terganggu. Hujan deras bahkan membuat mobil yang dikendarainya sedikit melintir.

Posisi Alan sudah terlihat oleh penglihatan Atsumi. “Itu dia,”–tatapan Atsumi semakin tertuju kepadanya–“kau akan berakhir, Alan.”

Miku yang duduk di samping Atsumi merasakan sebuah adrenalin. “Yeah!”

Mobil yang dikendarai Atsumi sudah mendekati mobil Alan. Kedua mobil melaju sejajar dengan kecepatan tinggi.

Alan membuka kaca mobilnya. “Haha ... kau pikir kau mampu menangkapku?”

“Ya, itu sudah pasti.” Atsumi menabrakan mobilnya ke mobil Alan.

Dari kejadian ini, mobil Alan sedikit terpental, namun masih bisa dikendalikan. “Kurang ajar,” katanya.

Kedua mobil masih dalam akselerasi tinggi. Alan mengarahkan pistolnya ke arah mobil Atsumi dan menembakkan secara brutal. Meski demikian, peluru yang dilepaskan tidak begitu merusak bagian kaca. Miku bahkan beberapa kali menunduk untuk mengantisipasi agar tidak terkena tembakan.

“Ini akan sulit, jauh lebih sulit untuk membuatnya turun dari mobil.” Miku berkata demikian, rasa bingung menyelimuti hatinya.

“Ya, ini realitanya,”–Atsumi masih fokus menyetir mobil, otaknya berpikir keras–“kau tahu, Miku ... ini bisa saja berakhir buruk untuk kita.”

Miku menoleh ke arah Atsumi. “Atsumi, kau tidak boleh berkata seperti itu.”

Tembakan masih dilancarkan oleh Alan. Kini giliran Alan yang menabrakkan mobilnya ke mobil Atsumi. Miku terkejut, kemudian menengok ke arah kiri. “Huh ....”

“Sial,” ucap Atsumi, lirih.

“Atsumi, pinjamkan aku pistolmu,”–Miku menjulurkan tangan kanannya–“dia akan segera berakhir.”

Atsumi melirik. “Serius? Kau bisa menggunakan pistol?”

Miku tertawa kecil. “Meremehkanku, ya? Aku bisa meniru caramu menembak pada waktu itu.”

“Ini,”–Atsumi memberikan pistolnya kepada Miku–“pakailah!”

Melaluli jendela mobil yang sedikit terbuka, Miku mulai membidik. Dia memang sebelumnya belum pernah menggunakan pistol, jadi caranya menembak juga masih terlihat amatiran. Atsumi yang berada di samping kanannya juga masih merasa was-was kepada Miku. Dia menyetir mobil sembari mengamati cara Miku membidik. “Fokuslah!”

Satu tembakan dilepaskan Miku. Alan merasa kaget dengan hal ini. Rasa terkejutnya muncul sebab yang menembakinya bukan Atsumi, melainkan seorang wanita yang bernama Miku. “Bagus, Miku,” pungkas Atsumi yang memuji Miku.

“Sial, apa-apaan ini,” gertak Alan.

Miku tersenyum, matanya masih fokus membidik. “Rasakan itu, Alan, kau pikir caramu itu bisa membuat kami semua menjadi takut? Tentu tidak!”

Alan menatap tajam ke arah Atsumi dan Miku. Dia lalu menabrakkan mobilnya ke mobil Atsumi dengan kencang. “Awas kalian!”

“Aaaaah—” Atsumi berteriak saat dia merasa kesulitan mengendalikan mobil yang disenggol mobil Alan.

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Saiki Atsumi (sebagai Agen “Atsumi” SA-8F)
2. Miku Kobato (sebagai Miku)
3. Kanami Touno (sebagai Kanami)
4. Misa (sebagai Misa)
5. Akane Hirose (sebagai Achi)
Pembuat:
Beňy
Genre:
Aksi, Petualangan, Teknologi, Intelijen
Daftar Episode:
» Episode 1 - Permulaan
» Episode 2 - Menuju ke Skandinavia
» Episode 3 - Lari, Miku!
» Episode 4 - Menyergap Marco
» Episode 5 - Miku Telah Kembali
» Episode 6 - Target Operasi
» Episode 7 - Krusial
» Episode 8 - Lepas

7 komentar:

  1. Halo teman-teman. Lama juga aku tidak posting di blog ini. OK, ini aku baru saja menyelesaikan FF terbaru "Agen SA-8F - Episode 7".

    Mungkin dari kalian (sahabat di MWB) pasti tak asing dengan FF ini. Ya, 'kan? Tapi tak sedikit yang sudah lupa dengan jalan cerita sebelumnya. Ya karena kelanjutannya lama saya buat. Hahaha.

    Baiklah, aku ucapkan salam kepada kalian.

    BalasHapus
  2. Miku bertindak tepat pada waktunya tapi apakah tindakan Miku bisa mengalahkan Alan?

    Baik. Saya tunggu kelanjutannya. Cerita ini benar-benar hidup.

    BalasHapus
  3. Sepertinya Alan akan takluk pada Kelompok Atsumi

    Atsumi ini yg membantu Miku di minimarket itu ya? Ah aku kesulitan mengingat nama-namanya

    BalasHapus
  4. Saiki harus tetap fokus mengemudi.., tancap gas kejar dan tangkap si Alan., buktikan kalian orang2 hebat.., haha

    okey mas di tunggu kisah selanjutnya..

    BalasHapus
  5. Lama gk tukeran kabar, Mas Ben ....
    Aku baru tahu klo Sampean punya blog. Aku kira masih di storial[dot]co. Untuk ceritanya sendiri, aku belum sempat baca. Mungkin sedikit mengulas kata 'untuk' pada kalimat pertama. Klo saran saya sih, akan lebih enak dibaca jika ditulis demikian:
    Alan melihat sekitar, bersiap untuk mencari celah [guna] melarikan diri.
    .
    Lanjut trus, Mas Ben!
    >_< Saya coba buat blog juga!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, lama tak ketemu. Hehe. Oiya, thanks atas koreksinya, akan aku perbaiki.

      Hapus
  6. saya baca cerita ini
    imajinasi nya ke anime
    bayangin ekpresi2 tohoh2 nya

    BalasHapus

Cari Artikel