BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Kamis, 03 November 2016

Light in the Dark - Episode 1

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu.
Cerita:
Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Lewis yang tanpa sengaja masuk ke dalam dunia fantasi bernama Xentåura. Awalnya, Xentåura adalah dunia yang damai dan tentram. Seiring berjalannya waktu, munculah seorang yang bernama Zhúivan yang jahat.

Zhúivan menciptakan Völgher—monster pembunuh—yang tidak memiliki perasaan.

Di Xentåura, Lewis bertemu dengan Nico, Jenson, Sebastian, dan Daniel. Mereka berlima akhirnya sepakat untuk memusnahkan para Völgher secara bersama-sama.
Tokoh Utama:
Lewis Hamilton
Nico Rosberg
Jenson Button
Sebastian Vettel
Daniel Ricciardo

【Light in the Dark】



(Episode 1 - Dunia Xentåura)

Xentåura, sebuah dunia yang indah, menampilkan kota masa depan. Bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi ke langit menunjukkan sebuah bukti jika peradaban manusia di era ini sudah mampu berinovasi dan menciptakan teknologi mutakhir. North-Xentåura—kota bagian utara—adalah kota yang paling maju jika dibandingkan dengan kota-kota lain, seperti West-Xentåura, East-Xentåura, dan South-Xentåura. Di North-Xentåura, penduduknya sudah mampu mengelompokkan wilayah perkotaan dan pedesaan.

~o0o~

North-Xentåura, 22 April 2960.

Di sebuah hutan, terlihat ada Nico dan Jenson yang sedang berburu binatang. Beberapa persenjataan pendukung sudah dipersiapkan, termasuk pakaian yang dikenakan.

Nico fokus membidik seekor tupai. “Jenson, apakah senapan buatan Daniel sudah kau bawa?”–dia memasang kuda-kuda–“Wuih ... kau lihat itu tadi?”

Sambil mengamati, Jenson tidak puas dengan tembakan Nico. “Bidikanmu itu sangat payah, Nico!”

Tak mau kalah, Jenson akan mencoba beradu kemampuan dengannya. “Nico, lihatlah aksiku ini!”–matanya fokus membidik–“wah ... hampir saja kena.”

“Itu sama saja, kita sama-sama senasib.” Nico membalas dengan tawa kecil.

Jenson menurunkan senapan-nya. “Baiklah, untuk menembak seekor tupai memang meleset,”–matanya menatap Nico–“tapi ... aku tidak pernah meleset kalau menembak seorang wanita.”

Ucapannya Jenson membuat Nico ingin tertawa, namun dia mencoba menahannya sebisa mungkin. “Jenson, apa aku tidak salah dengar?”–telapak tangannya menutup bibir–“ini berhasil kau terapkan kepada Jessica Michibata, ya? Haha.”

Wajah Jenson memerah. “Ya ampun ... Nico, kau?”

“Jen, akui sajalah,”–Nico menepuk pundak Jenson–“kita bicara blak-blakan saja. Haha.”

Jenson hanya membalas candaan Nico dengan raut wajah cemberut, pandangannya teralihkan ke langit.

Di sela-sela tawa antara Nico dan Jenson, sebuah suara aneh terdengar tidak jauh dari posisi mereka saat itu. Suara mengaum seperti harimau terdengar sangat jelas. Nico mengarahkan senapannya ke sumber suara sedangkan Jenson mengambil selongsong peluru.

Nico berjalan maju. “Bersiap—”

“Huh ....” Jenson menjaga jarak dengan Nico, tatapan matanya mengarah ke kiri dan ke kanan, bahkan ke belakang.

“Dia semakin mendekat.” Nico terus berjalan perlahan.

Tiba-tiba ....

“Aaaaa ....” Sebuah teriakan ketakutan seseorang terdengar. Tanpa diduga sebelumnya, suara mengaum tersebut bukanlah suara binatang buas, melainkan suara dering ponsel.

Nico dan Jenson terkejut melihat temannya berada di hadapan mereka. “Sebastian, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?”–Nico menurunkan senapan-nya–“kau membuat kami berdua kaget!”

Jenson menghela napas panjang. “Huh ... hampir saja aku melepaskan tembakan.”

Sebastian menunjukkan ponselnya. “Lihatlah! Ini suara nada SMS ponselku.”

Nico merangkul Jenson dan Sebastian. Dia mengajak keduanya untuk pulang. “Hampir saja aku dan Jenson berprasangka buruk perihal suara harimau tadi.”

~o0o~

London, Britania Raya, 10 September 2016

“Pencuri ....” Suara yang tak mengenakan pun terdengar.

Terlihat seorang lelaki yang sedang mengejar perampok. Sebelumnya, telah terjadi perampokan di sebuah toko elektronik. Dua laptop diambil sang perampok dan dimasukkan ke dalam tasnya. “Tangkap dia hidup-hidup!”

“Lewis ....” Seorang polisi ikut membantu pengejaran, napasnya terengah-engah. “Kau cegat dia dari arah kiri, aku akan mengikutinya dari arah belakang.”

Lewis mengikuti komando dari seorang polisi. Sembari mengejar, dia terus mempercepat laju larinya. “Siap, Pak!”

Laju lari Lewis setingkat lebih cepat daripada sang perampok. Dia bergerak dari sisi kiri dan siap mencegat dari arah depan, di belakang sudah ada seorang polisi yang sudah siap dengan pistolnya.

“Berhenti ... jangan bergerak!”–sang polisi mengarahkan pistolnya ke depan–“angkat tanganmu!”

Lewis yang berada di depan si perampok juga merasa panik jika nanti tembakan dari polisi justru meleset. “Aduh ... bahaya ini.”

Tak lama kemudian ....

“Aku menyerah.” Suara yang menjadi kode sudah terdengar, sang perampok menyerahkan diri. Barang curiannya diletakkan di atas jalan trotoar.

“Dasar cengeng,”–Lewis mengambil tas yang berisi laptop yang sempat diambil perampok–“perampok macam apa kau ini?”

Seorang polisi yang bekerja sama dengan Lewis berhasil meringkus sang perampok. Kedua tangannya diborgol, dia sudah tak bisa berbuat macam-macam lagi.

Polisi bertanya, “Apakah barang-barangmu yang berada di dalam tas masih aman?”

“Sebentar ... saya lihat dulu,”–pandangan Lewis tertuju ke dalam tas si perampok–“aman, Pak. Laptopku masih mulus. Terima kasih sudah membantuku.”

Si perampok digiring polisi menuju ke dalam mobil tahanan. “Baiklah, saya akan membawa orang ini menuju ke kantor polisi.”

“Sekali lagi, terima kasih, Pak!” Lewis merasa lega, dua laptop miliknya berhasil didapatkan kembali.

Setelah kejadian ini, Lewis mencoba melihat kembali menu di laptopnya. Dia ingin memastikan jika tidak ada kerusakan. Dia pun terkejut setelah melihat sebuah icon logo game tampil di menu utama. “Apa ini?”–jarinya bergerak mengarahkan kursor–“Lost in Xentåura? Game apa ini?”

Lewis merasa sangat penasaran, karena sebelumnya tidak memiliki game ‘Lost in Xentåura’. Dia duduk di kursi dekat tiang lampu. “Loading-nya lama sekali ... payah!”

Setelah game berhasil dibuka, sebuah sinar putih dari laptop menyilaukan pandangan kedua matanya. Seketika itu, pandangannya kabur, tak dapat melihat apa pun. Dari situ, dia menyadari jika dirinya sudah berada di tempat lain, tempat yang asing untuknya.

~o0o~

Tangan yang menutupi kedua matanya dibuka. “Di mana aku ini?”

Perasaan bingung sekejap datang begitu saja. Lewis tak mampu menjelaskan dengan nalarnya. Di pikirannya hanya muncul perasaan kaget. Bahkan, dia berpikir jika saat ini sedang berada di dalam hutan.

“Apa ada orang di sini?” Lewis berteriak lantang, berharap ada seseorang yang bisa dia temui.

Lewis tak tahu arah jalan. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan, mencari tahu tentang nama lokasinya saat ini. “Siapa pun, tolong aku!”

Meski merasa bingung, namun dia juga merasa takjub. Keindahan hutan Xentåura akan membuat orang yang datang akan menjadi seperti terhipnotis. “Ya ampun, tempat ini sangat indah sekali. Tapi percuma, riwayatku di sini akan habis!”–tangannya mengusap-usap keningnya–“bahkan, laptopku hilang entah ke mana.”

Lewis berjalan perlahan. Dia menyadari jika dirinya telah diikuti oleh seseorang yang penampilannya sangat misterius. Sadar akan hal ini, langkah kakinya terhenti, pandangannya pun kosong. Ingin sekali Lewis memutar balik badannya ke arah belakang, namun dia merasa takut.

Lewis menghela napas panjang. “Satu ... dua ... tiga ...,”–dia memutar badannya ke belakang–“siapa kau?”

Seseorang yang berpenampilan misterius dan bertubuh pendek terus saja menatap Lewis. Di hadapannya, Lewis mencoba menerka-nerka maksud orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. “Hei, hei ... kenapa kau menatapku aneh seperti itu?”

“La-ri ....” Seseorang di hadapan Lewis berlari meninggalkannya.

“Hei ... bocah,”–Lewis mengejar, bingung akan situasi ini–“untuk apa lari? Hei, bocah! Aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu.”

Pengejaran Lewis hanya berakhir sia-sia. Anak kecil yang dia kejar sudah berlari menjauh.

Bersambung ....

Pembuat:
Beňy
Genre:
Aksi, Horor, Fantasi
Daftar Episode:
» Episode 1 - Dunia Xentåura
» Episode 2 - Datangnya Völgher
» Episode 3 - Bertarung

4 komentar:

  1. Ini udah aku baca ya waktu itu di MWB. Nunggu kelanjutannya. Apalagi yang agen2 rahasia sama memorabilia. Btw blogmu udah aku follow.

    BalasHapus
  2. Ok, ada Nico, Jenson yg sedang berburu di hutan Xeantura, kemudian datang Sebastian yang hampir menjadi sasaran tembak, berbeda dengan Sebastian yg caranya masuk ke dunia lain Xeantura tdk disebutkan seoerti Lewis polisi yg terkesima dg tombol pd game dan membawanya ke Xeantura, mungkin ini petualangan segera dimulai

    BalasHapus
  3. Ini yg udah pernah terbit di mwb waktu itu ya, mas?

    BalasHapus
  4. Lama juga gak baca ceritanya, udah lupa episode berapa terakhir gue baca, success corat coret komen dach..

    BalasHapus

Cari Artikel