BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Jumat, 28 Oktober 2016

Believe - Episode 1

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu.
Cerita:
Kisah ini menceritakan Rio, seorang anggota kepolisian yang bertugas di divisi lalu lintas dan kriminal. Suatu ketika, dia bertemu dengan Pascal—pengusaha kaya raya—yang memacu mobil BMW dengan kecepatan tinggi. Rio mencoba memperingatkan, namun Pascal tidak menghiraukannya. Dari sini, perselisihan antara Rio dan Pascal dimulai.

Dalam cerita ini, Rio tanpa sengaja bertemu dengan seorang wanita bernama Isyana di kantor polisi. Pertemuan antara keduanya terjadi saat Isyana kehilangan kucing peliharaannya. Isyana ingin agar Rio bisa membantunya. Meski bukan tugasnya, tapi Rio mencoba untuk membantu mencari kucing kepunyaan Isyana. Dari sini, hubungan keduanya semakin dekat.

【Believe】



(Episode 1 - Tugas Baru)

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil dengan merk BMW yang dinaiki oleh Pascal dan Alodia telah melanggar batas kecepatan. Pascal sengaja mengetes kemampuan mobil yang belum lama dibelinya. Pascal adalah seorang pebisnis di sebuah perusahaan yang gemar mengoleksi mobil mewah. Saat ini, dia dekat dengan seorang wanita bernama Alodia yang juga bekerja di perusahaannya.

“Akselerasi mobil ini sangat bagus,” kata Pascal. “Bagaimana menurutmu, Alodia?”

Alodia yang duduk di depan, di samping Pascal, membuka kacamatanya. “Fantastis ....”

Pascal melaju melewati pos polisi. Entah lalai atau tidak, dia masih memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seorang polisi yang sedang berjaga di sana melihat kejadian ini. Rio—seorang polisi lalu lintas—yang sedang bertugas, bersiap mengejar dengan mobil Audi.

Rio menghidupkan mesin mobilnya. “Siapa dia? Beraninya memacu mobil dengan kecepatan tinggi di tempat seperti ini.”

Alodia melihat di kaca spion mobil. Dia terkejut. “Aduh ... gawat!”

“Ada apa?” tanya Pascal penasaran.

“Lihatlah,”–Alodia menengok ke belakang–“kita diikuti seorang polisi.”

“Benarkah?” Pascal melirik ke spion, masih fokus mengemudikan mobil.

Mobil yang dikendarai Rio mendekati mobil Pascal. Dia berteriak melalui pengeras suara yang terpasang di mobilnya. “Berhenti, kau telah melanggar batas kecepatan!”

Pascal seakan tak menghiraukan perkataan Rio. Dia pun terus memacu mobilnya menjauh. “Sial—”

“Sayang, sebaiknya kita ikuti perintahnya.” Alodia menyadari jika kekasihnya tersebut telah berbuat kesalahan.

“Tapi ....” Pascal mempertimbangkan ucapan dari Alodia, meski dirinya sebenarnya tidak suka diperintah.

“Tapi apa?” Alodia membentak. “Cepatlah!”

Pascal membelokkan mobilnya ke pinggir jalan. Kaca mobil dibuka. “Iya ... iya ....”

Rio turun dari mobil. Dia membawa sebuah kertas tilang. “Selamat siang ... bisa saya lihat surat-surat kendaraan Anda?”

Pascal membuka pintu mobil. “Ini,”–dia menunjukkan surat-surat kendaraan miliknya–“silakan dilihat, Pak!”

“Pascal Wehrlein,”–Rio membaca identitas yang dimiliki oleh Pascal–“kenapa kau melaju melebihi batas kecepatan yang sudah ditetapkan? ”

Pascal menjawab, “Aku hanya mengetes performa mobil sport ini.”

Rio menghela napas, mencoba memaafkan perbuatan buruk yang dilakukan Pascal. “Huh,”–dia mengembalikan surat-surat kendaraan milik Pascal–“hari ini, aku hanya memberi peringatan saja. Tapi ... jika kau mengulangi perbuatan seperti ini lagi, maka aku tidak segan akan menilang mobilmu!”

Pascal memprotes, menunjukkan senyum jahat. “Kau mengancamku?”

“Aku hanya memberi peringatan saja,”–Rio menepuk pundak Pascal–“berkendaralah dengan hati-hati!”

Seketika itu, Pascal dan Alodia langsung pergi meninggalkan Rio. Meski hanya mendapat peringatan saja, namun Pascal masih menyimpan dendam pribadi terhadap Rio.

Rio masuk ke dalam mobil. Dia akan kembali ke kantor polisi dengan diiringi alunan lagu milik Jeniffer Lopez yang diputar melalui mobilnya. “Orang seperti dia akan selalu bertindak ceroboh. Aku akan selalu mengawasinya.”

~o0o~

Kantor Polisi.

Rio berjalan masuk menuju ruang kerjanya. Dia duduk menghadap ke komputer. Akhir-akhir ini perasaannya sedang sedih melihat kelakuan para pengendara mobil dan motor yang dirasa sangat merugikan orang lain. “Benar-benar memprihatinkan. Peraturan saat ini harus direvisi.”

Di balik raut wajah serius dari Rio, ternyata menyimpan sebuah maksud tertentu. Dia ingin orang-orang sadar akan keselamatan pengguna jalan lain.

Tak lama setelah itu, seorang wanita bertubuh tinggi dan berparas cantik datang menghampiri Rio yang sedang membuat laporan. “Permisi ....”

Rio menatap sang wanita yang memanggilnya. “Ya,”–jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya–“ada yang bisa saya ....”

Wanita tersebut menunjukkan sebuah foto. “Iya, aku butuh bantuan.”

“Sebentar,” sela Rio, mengangkat tangan kanannya.

Wanita tersebut menahan ucapannya, lalu berkata, “Eeeeeh—”

“Sebutkan nama dan keluhanmu.” Rio bersiap menulis di selembar kertas.

“Namaku Isyana ... Isyana Sarasvati,” ucap sang wanita yang kini dikenal dengan nama Isyana Sarasvati.

Rio sejenak berhenti menulis, kemudian menatap ke arah wanita di depannya. “Isyana Sarasvati?”

“Iya, memangnya ada apa?” tanya Isyana.

Rio bahkan tidak berkedip ketika menatap Isyana. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Eh, tidak ... aku hanya ....”

Isyana pun demikian. Pipinya memerah saat melihat Rio yang mengalami salah tingkah. “Oh ....”

“Jadi,”–pandangan Rio kembali menuju ke sebuah kertas di atas meja–“apa keluhanmu?”

Isyana menunjukkan sebuah foto. “Aku kehilangan kucing peliharaanku. Aku terakhir kali melihatnya ketika berada di sebuah taman bunga. Bisakah kau membantuku untuk mencarinya?”

Rio terkejut. “Hah ... kucing? Sepertinya kau telah salah orang.”

“Jadi ... kau tidak bisa membantuku?” Isyana kembali bertanya, raut wajahnya berubah menjadi sedih.

“Bukan begitu,”–Rio melihat foto yang ditunjukkan oleh Isyana–“aku mengurusi bagian divisi lalu lintas dan kriminal.”

Isyana kecewa dengan ucapan Rio. Dia pun bergegas pergi meninggalkan kantor polisi dengan raut wajah cemberut. “Ah ... dasar! Katanya polisi itu mengayomi masyarakat. Tapi ... nyatanya seperti ini, ya?”

Rio berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah, Nona. Aku akan mencari kucing peliharaanmu. Jangan marah begitu ....”

Isyana terlanjur kecewa. Ucapan Rio tidak dihiraukannya. Dia pun berharap agar tidak bertemu lagi dengan Rio sampai kapan pun.

Isyana mengangkat tangan kanannya. “Terserah—”

Rio mengusap-usap keningnya. Perasaan menyesal menyelimuti dirinya. “Ya ampun ... apa yang baru saja aku katakan?”

~o0o~

Keesokan harinya, Rio memutuskan untuk mencari kucing peliharaan milik Isyana. Dia melakukan hal ini demi menjaga martabat dan nama baik seorang polisi.

Posisi Rio saat ini sedang berada di taman bunga, seperti yang sudah dikatakan Isyana sebelumnya. “Pus-pus ... di mana kau?”

Rio terus saja memanggil kucing milik Isyana. Keberadaannya di taman bunga mengundang reaksi dari orang-orang. Orang-orang di sana merasa penasaran ketika melihat Rio yang sebagai polisi di bagian divisi lalu lintas dan kriminal justru menjalankan tugas di luar tanggung jawabnya.

Seorang anak kecil mendatangi Rio. “Sedang mencari apa, Pak Polisi?”

Rio menatap anak kecil tersebut. “Aku sedang mencari seekor kucing,”–dia menunjukkan foto–“kau pernah melihat kucing ini?”

Sang anak kecil melihat foto dengan seksama, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah melihat kucing yang seperti ini.”

“Ya sudah,”–Rio melanjutkan pencarian–“kalau kau melihatnya, tolong hubungi aku, ya.”

“Siap, Pak Polisi,” balas sang anak kecil.

Pandangan Rio tertuju ke sebuah air mancur di depannya. Dia mendengar suara kucing. “Itu pasti dia.”

Dengan rasa percaya diri, Rio terus berjalan mendekat, wajahnya terlihat sumringah. Namun sebuah kejadian yang tak diduga sebelumnya terjadi juga. “Kau lagi ....”

Rio melihat seorang lelaki yang duduk santai membelakangi air mancur.

Lelaki yang berada di depannya tidak lain dan tidak bukan adalah Pascal. “Apa yang sedang kau lakukan di sini, Pascal?”

“Kau,”–Pascal berdiri, mematikan nada SMS di ponselnya–“kenapa kau mengawasiku?”

“Aku tidak mengawasimu ... jangan salah sangka,” ucap Rio. “Aku sedang mencari seekor kucing.”

“Hahaha,”–Pascal tertawa, menunjukkan ponselnya–“ini suara nada SMS-ku. Memang bernada suara kucing.”

“Sial ...,” balas Rio, lirih.

Pascal menggenggam tangan kanannya. “Aku tidak terima dengan kejadian yang kemarin.”

Rio santai saat melihat reaksi Pascal. “Kau memang salah. Orang yang melanggar peraturan harus ditindak tegas. Tapi aku masih memberi keringanan untukmu.”

Pascal terus saja memancing emosi. “Sekali pun kau adalah polisi, aku tidak takut. Ingat itu!”

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Rio Haryanto
2. Isyana Sarasvati
3. Pascal Wehrlein
4. Alodia Almira Arraiza Gosiengfiao
Pembuat:
Beňy
Genre:
Romansa, Melodrama
Daftar Episode:
» Episode 1 - Tugas Baru
» Episode 2 - Menjalankan Misi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel