BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Minggu, 30 Oktober 2016

Agen SA-8F - Episode 4

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu. Kenapa judulnya “Agen SA-8F”? “SA” adalah inisial dari nama Saiki Atsumi sedangkan “8F” adalah tanggal lahirnya, yakni 8 Februari.
Inspirasi:
Cerita ini terinspirasi dari para personel grup band beraliran hard rock dan heavy metal, yakni BAND-MAID.

【Agen SA-8F】



(Episode 4 - Menyergap Marco)

Waktu sudah menunjukkan pukul 09:04 malam. Kanami dan Achi yang berada di kamar hotel nomor 26 merasa khawatir kepada Miku yang belum juga kembali. Mereka berdua takut jika terjadi sesuatu kepadanya.

Sambil memikirkan Miku, Achi bertanya, “Kenapa Miku belum juga kembali?”

Kanami menjawab, “Entahlah, ketika ponselnya aku hubungi, ternyata sedang tidak aktif.”

Rumah Atsumi, malam hari.

Atsumi mengajak Miku untuk masuk ke dalam rumahnya yang megah.

“Silakan masuk, Miku!” pinta Atsumi dengan ramah. “Jangan sungkan, aku di rumah ini hanya sendiri.”

“Terima kasih banyak, Atsumi,” kata Miku, sembari memegang bajunya yang masih basah setelah kehujanan.

“Sepertinya kau akan masuk angin jika masih memakai baju itu,” tutur Atsumi. Dia lalu menuju ke tempat penyimpanan baju miliknya. “Ini, kau bisa pakai baju milikku.”

Miku sangat senang berada di rumahnya Atsumi. Namun dia merasa heran karena di rumahnya yang luas dan megah hanya ada Atsumi seorang. “Kau tinggal di rumah ini sendirian. Di mana keluargamu, Atsumi?”

“Orang tuaku saat ini sedang pergi ke luar negeri. Ada urusan bisnis penting dari perusahaannya,” tutur Atsumi, sembari menyiapkan makanan di atas meja. “Silakan duduk!”

Sambil menikmati hidangan santap malam, Atsumi dan Miku saling berbincang-bincang.

“Kau tadi mengatakan kalau tasmu dicuri oleh seseorang?” Atsumi mencoba mencari informasi dari Miku. “Apa saja isi dari tasmu?”

Miku tersenyum, kemudian berkata, “Sebenarnya isinya bukan barang berharga, hanya ponsel dan peralatan make up saja.”

Atsumi terkejut. Dia berpikir jika tas Miku yang dicuri berisi barang-barang yang berharga, namun isinya justru peralatan make up dan ponsel. “Aku pikir isinya uang atau surat-surat berharga, tapi ternyata ....” Atsumi menghentikan ucapannya sembari menahan tawa.

“Jadi, sebenarnya kau mau membantuku untuk melaporkan ke polisi atau tidak?” tanya Miku dengan memasang raut wajah cemberut.

“Tidak usah ke kantor polisi!” ujar Atsumi dengan nada datar, tatapan matanya tajam. “Aku bisa membantumu.”

Mendengar ucapan dari Atsumi membuat Miku menjadi bingung. Dia belum tahu tentang rencana yang akan dijalankan Atsumi untuk menangkap pelaku yang mencuri tasnya. Bahkan Miku berpikir kalau Atsumi sedang bergurau kepadanya.

♦—※—♦

Hari berikutnya. Atsumi bersiap untuk mendeteksi keberadaan si pencuri tasnya Miku. Dia mengajak Miku untuk masuk ke dalam mobil Volkswagen miliknya.

Sambil mengeluarkan laptop, Atsumi kemudian mengaktifkan fitur detektor yang terinstal di laptop miliknya. Miku yang melihatnya merasa sedikit bingung dengan kode-kode yang tak biasa dia lihat sebelumnya.

“Miku,” ucap Atsumi, sembari fokus di depan laptopnya. “Aku perlu beberapa data ponselmu.”

“Eee ... iya,” jawab Miku. Dia merasa bingung dengan yang akan dilakukan Atsumi. “Tentu saja.”

Atsumi menanyakan nomor ponsel, merk ponsel, tempat perakitan ponsel, password salah satu jejaring sosial, dan sebagainya kepada Miku. Awalnya, Miku merasa tidak percaya kepada Atsumi, tapi karena ini menyangkut barang-barang di dalam tasnya maka dia akan menjawab setiap pertanyaan yang dibutuhkan Atsumi.

Setelah beberapa menit menunggu proses pendeteksian, Atsumi tersenyum, lalu berkata, “Berhasil terdeteksi!” Dia lalu menghidupkan mobilnya dan berjalan mengikuti radar yang muncul di layar laptopnya.

Miku yang melihat hal ini menjadi heran. Dia masih merasa penasaran akan sosok Atsumi, seorang perempuan yang rela membantunya. “Sebenarnya dia ini siapa?” tanya Miku dalam hati.

Atsumi dan Miku sudah semakin dekat dengan obyek yang terdeteksi oleh radar. Atsumi terus memacu mobil Volkswagen mewahnya dengan akselerasi penuh. Miku yang berada di kursi depan sampai tidak berkedip ketika Atsumi mengemudikan mobil dengan cepat, layaknya seorang pembalap F1.

“Radar ponselmu terdeteksi bergerak menuju ke tempat konter HP.” Atsumi mengatakan hal ini kepada Miku.

Miku terkejut. “Hah? Jadi dia akan menjual ponselku?” ucapnya dengan penuh emosi. Miku tak habis pikir jika Marco si pencuri akan menjual ponsel kepunyaannya.

Atsumi dan Miku sudah mendekati obyek yang muncul di radarnya. Hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi mereka berdua. Di sisi lain, Marco terus berjalan menuju ke tempat penjualan ponsel. Saat ini dia sedang berjalan di jalan trotoar. Tak lama setelah itu, sebuah mobil Volkswagen berhenti di dekatnya. Mobil tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah mobil yang dikendarai oleh Atsumi dan Miku.

Marco menoleh ke arah kanan. Setelah kaca mobil dibuka, betapa terkejutnya dia ketika bertemu lagi dengan Miku. “Miku, what are you doing?” tanya Marco dengan perasaan terkejut.

“Heh ... kembalikan tasku!” seru Miku, amarahnya memuncak.

Marco tidak ingin mengambil risiko. Dia justru berbalik arah dan berlari menjauhi Miku. Merasa jika Marco akan kabur lagi, Miku lalu memutuskan untuk mengejarnya. Marco dan Miku kini terlibat kejar-kejaran di jalan trotoar.

Atsumi yang berada di dalam mobil hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat Miku sedang mengejar Marco. Dia pun memutuskan untuk berbalik arah dan ikut mengejar dengan mobilnya. Mobil yang dikendarainya setingkat lebih cepat daripada laju lari Marco. Hal ini memudahkannya untuk memblokade Marco. Sekarang Marco sudah terkepung. Di depannya ada Atsumi dan di belakangnya ada Miku. Dia merasa panik, kemudian menatap ke sebuah bangunan tua yang sudah tak berpenghuni berada di arah kanannya. Dia berlari masuk ke dalam sana dan berharap bisa lolos dari pengejaran Atsumi dan Miku.

“Gawat!” ucap Miku sembari menepuk keningnya. “Sekarang dia justru masuk ke bangunan tua itu.”

“Memangnya ada apa?” tanya Atsumi kepada Miku. “Kau takut masuk ke dalam sana?”

Miku kemudian menjawab, “Jelas tidak! Ayo kita sergap dia di dalam!”

Ruangan gelap, pencahayaan kurang, dan berdebu. Begitulah suasana yang tergambarkan di dalam bangunan tua yang dimasuki Atsumi dan Miku. Kegelapan di dalam ruangan membuat pandangan Miku sedikit tidak jelas. Sesekali dia menabrak sebuah kursi. “Aaahhh ... kakiku sakit!” teriaknya histeris, menahan sakit.

Atsumi tetap tenang ketika mencari keberadaan Marco. Dia melihat beberapa pantulan cahaya yang masuk ke dalam ruangan.

“Bau apa ini?” Miku terus saja bertindak gegabah. “Ini seperti bau kotoran tikus! Ih, jijik!”

Sejenak ketika Miku mencium bau kotoran tikus membuatnya merasa mual. Atsumi yang berada di dekatnya merasa tidak tahan lagi melihat tingkah Miku yang dirasa hanya mempersulitnya ketika sedang mencari keberadaan Marco. Akhirnya dia berinisiatif mencari keberadaan Marco secara sendirian. Dia melangkahkan kakinya dengan hati-hati.

Tanpa sengaja, Atsumi melihat sebuah panci yang sudah usang berada di depannya. Dari situ dia mempunyai rencana untuk menjebak Marco.

Atsumi mengambil panci tersebut dan melemparkannya ke lantai. Suara yang mengagetkan membuat Miku dan Marco panik.

“Aaaaa ....” Marco berteriak keras, karena kaget. Atsumi dengan sigap menoleh ke sumber suara tersebut.

Lokasi persembunyian Marco kini sudah diketahui. Saat ini dia sedang bersembunyi di balik meja. Atsumi berjalan perlahan-lahan untuk mendekatinya. Jantung Marco berdetak kencang seiring terdengarnya suara langkah kaki Atsumi yang mulai mendekat.

“Baaa ...,” ucap Atsumi dengan senyuman manis tepat di telinga kanan Marco. “What do you see?”

Marco kaget, kemudian berkata, “Oh, no!”

Marco tidak menduga sebelumnya jika Atsumi sudah berada di dekatnya. Ketika hendak menoleh, Marco langsung terkena pukulan keras dari Atsumi tepat di bagian hidungnya. Kini dia terkapar jatuh dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sekejap dia pun tak sadarkan diri.

♦—※—♦

Misi telah berhasil, Miku sudah mendapatkan kembali ponselnya yang telah dicuri oleh Marco. Meski begitu, dia masih mencari tasnya yang belum juga ditemukan.

“Cari apa?” tanya Atsumi kepada Miku.

Miku berjalan mondar-mandir di dekat Marco yang saat ini sedang terkapar tak sadarkan diri. “Tasku mana?” tanya Miku. Dia terus saja mencari tasnya.

“Aku lihat sepertinya orang ini tidak membawa tasmu,” ujar Atsumi, mengawasi Marco. “Sepertinya tasmu telah dibuang.”

“Hah?” kata Miku seakan tak percaya. Dia mencoba membangunkan Marco yang sedang terkapar di lantai.

“Sebaiknya kita keluar dari tempat ini sebelum dia sadar lagi, Miku!” pinta Atsumi yang saat itu sedang membersihkan tangannya dari darah setelah memukul Marco. Dia kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Sambil berlari, Miku berteriak, “Iya, iya ... tunggu aku, Atsumi!”

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Saiki Atsumi (sebagai Agen “Atsumi” SA-8F)
2. Miku Kobato (sebagai Miku)
3. Kanami Touno (sebagai Kanami)
4. Misa (sebagai Misa)
5. Akane Hirose (sebagai Achi)
Pembuat:
Beňy
Genre:
Aksi, Petualangan, Teknologi, Intelijen
Daftar Episode:
» Episode 1 - Permulaan
» Episode 2 - Menuju ke Skandinavia
» Episode 3 - Lari, Miku!
» Episode 4 - Menyergap Marco
» Episode 5 - Miku Telah Kembali
» Episode 6 - Target Operasi
» Episode 7 - Krusial
» Episode 8 - Lepas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel