BUNDESLIGA
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
o BORUSSIA DORTMUND
vs
TSG 1899 HOFFENHEIM
o
JADWAL PERTANDINGAN
Sabtu, 16 Desember 2017 – 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund TSG 1899 Hoffenheim
HIGHLIGHTS BUNDESLIGA
1. FSV Mainz 05 0 2 Borussia Dortmund

Sokratis 55'
Shinji Kagawa 89'

Minggu, 30 Oktober 2016

Agen SA-8F - Episode 3

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu. Kenapa judulnya “Agen SA-8F”? “SA” adalah inisial dari nama Saiki Atsumi sedangkan “8F” adalah tanggal lahirnya, yakni 8 Februari.
Inspirasi:
Cerita ini terinspirasi dari para personel grup band beraliran hard rock dan heavy metal, yakni BAND-MAID.

【Agen SA-8F】



(Episode 3 - Lari, Miku!)

Alan Rüdiger Akhmedov mempersilakan Miku, Kanami, Misa, Achi, dan Liviana untuk masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz miliknya. Nantinya Alan akan mengantarkan mereka berlima menuju ke kantor Departemen Pertahanan Denmark. Alan diutus oleh atasannya untuk menjemput mereka berlima dari Bandara Kopenhagen, Denmark.

Perjalanan Miku dan teman-temannya di Kota Kopenhagen terbilang masih baru, apalagi bertemu dengan orang yang baru mereka kenal, yakni Alan. Liviana sebagai pemandu wisata duduk di kursi depan bersama Alan. Miku dan Kanami duduk tepat di belakang kursi mereka berdua. Di kursi paling belakang ada Achi dan Misa yang sedang memandangi jalanan sekitar.

Sambil mengemudikan mobil, Alan mengajak Liviana untuk berbincang-bincang. “Siapa namamu? Kau terlihat cantik.”

Pipi Liviana memerah. Dia kemudian menoleh ke arah Alan dan menjawab, “Namaku Liviana Almira. Biasa dipanggil dengan nama Livi. Aku di sini ditugaskan untuk mendampingi mereka berempat untuk studi wisata di tempat ini.”

Di balik pembicaraan antara Liviana dan Alan yang terlihat santai membuat Miku menjadi penasaran. Dia ingin tahu tentang yang sedang mereka berdua bicarakan.

Miku mengawasi mereka berdua dari belakang kursi. Sesekali membuka ponselnya untuk sekadar mencari alasan. Kanami yang duduk di sampingnya bingung dengan tingkah Miku saat itu.

Kanami menepuk pundak Miku. “Heh, kau sedang apa, Miku?” tanya Kanami tersenyum.

Miku menaruh jari telunjuk di bibirnya. “Sssttt! Diam dulu, Kanami.”

“Sepertinya antara Liviana dan Alan ada sesuatu,” ucap Miku lirih. “Kau tahu itu tidak, Kanami?”

Kanami kemudian mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil. “Ah, mungkin sebelumnya mereka sudah saling mengenal,” ucapnya sedikit tidak peduli.

Tak terasa sudah hampir 35 menit Miku dan kawan-kawannya dalam perjalanan menuju ke kantor Departemen Pertahanan Denmark. Mereka kini sudah memasuki kawasan pengecekan. Alan berhenti di depan gerbang. Beberapa petugas datang menghampiri dan langsung mengecek, demi keamanan tempat.

Sambil mengacungkan jempol kanannya. “Aman!” seru salah seorang petugas keamanan. “Silakan masuk!”

Alan kemudian meneruskan perjalanannya menuju ke kawasan militer. “Bagaimana tempat ini?” tanya Alan tersenyum. “Luas tidak?”

“Tempat ini benar-benar sangat luas. Sepertinya aku akan takut jika berada di sini sendirian,” gumam Kanami sembari memegang tangan Miku dengan erat.

“Ih, apa-apaan kau ini, Kanami?” ujar Miku merintih. “Tanganku sakit kalau kau pegang seperti ini!”

“Maaf, maaf, Miku.” Kanami melepaskan cengkraman jari-jarinya dari tangan Miku.

Mobil Mercedes-Benz yang dikendarai Alan berhenti di sebuah taman. Pintu mobil dibuka. Miku dan teman-temannya keluar dari mobil. Dilihatnya tempat tersebut cukup luas, ditambah beberapa jenis bunga yang tumbuh beraneka ragam. Mereka sangat antusias ketika berada di tempat tersebut.

Miku, Kanami, Misa, dan Achi tidak ingin melewatkan momen langka ini begitu saja. Miku menjadi pelopor untuk bagian foto-foto. “Teman-teman, ayo kita foto-foto di sebelah sana!” seru Miku sembari mengambil kamera di dalam tasnya.

“Aku mau, Miku! Ayo kita berempat foto selfie!” pinta Kanami merangkul teman-temannya.

Mereka berempat sudah menemukan tempat yang bagus untuk background-nya. Sesi foto-fotonya pun dimulai. Miku menyuruh kepada teman-temannya untuk berfoto selfie dengan ‘gaya bebek’. Dari momen foto-foto inilah, mereka berempat mulai saling akrab.

“Miku, Miku, coba lihat foto wajahku ketika ‘gaya bebek’ tadi,” ucap Kanami tidak sabar. “Kira-kira bagus atau tidak?”

Miku menunjukkan hasil foto yang berhasil diambilnya tadi. “Iya, sebentar. Yang ini, ’kan?” tanya Miku kepada Kanami.

Di tempat lain, Liviana dan Alan sedang duduk berduaan sembari mengamati Miku dan teman-temannya yang sedang berfoto. Mereka berdua tersenyum melihat kepolosan yang mereka berempat tunjukkan.

“Livi.” Alan memanggil Liviana. “Sepertinya mereka berempat tampak akrab?”

Liviana menoleh ke arah Alan, kemudian tersenyum. “Iya, sepertinya begitu. Tapi aku belum begitu memahami karakter mereka masing-masing.”

Sebagai pembimbing, Liviana memberitahukan kepada Alan jika agenda di hari pertama ini akan digunakan untuk bersantai. Nanti di hari berikutnya mereka akan menjalankan tugas yang diperintahkan oleh sekolahnya, yakni SMA Westfalier. Liviana juga mengucapkan terima kasih kepada Alan, karena telah mengantarkan mereka ke lokasi Departemen Pertahanan Denmark.

Agenda adaptasi dengan lingkungan di hari pertama telah selesai. Liviana mengajak Miku, Kanami, Achi, dan Misa pergi menginap ke sebuah hotel. Mereka memilih menyimpan tenaga untuk digunakan di hari berikutnya, mengingat jadwal mereka cukup padat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 03:25 sore. Miku ternyata merasa haus.

Miku mengambil tasnya, kemudian berdiri. “Kanami, aku akan membeli minuman dulu di luar hotel.”

Kanami menaruh rasa curiga, lalu bertanya, “Kenapa harus beli di luar? Bukankah di hotel ini juga ada?”

“Sepertinya aku kurang suka minuman di hotel ini. Nanti aku pasti akan kembali ke sini dengan cepat. Bye!” Miku melambaikan tangannya kepada Kanami. Dia lantas pergi begitu saja.

Melihat Miku yang bertingkah aneh membuat Kanami sedikit khawatir. Tapi dia yakin jika Miku bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Setelah Miku keluar, kini hanya ada Kanami sendiri di kamar hotel nomor 26. Tak lama setelah itu terdengarlah suara ketukan dari luar pintu. Kanami membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Achi.

Kanami terkejut melihat Achi yang masuk ke kamarnya. “Kenapa kau datang ke sini, Achi?” tanya Kanami ingin tahu maksud dan tujuannya.

“Bolehkah aku beristirahat di sini, Kanami?” ucap Achi tersenyum. “Soalnya aku dan Misa selalu rusuh kalau berada dalam satu tempat.”

Kanami menganggukkan kepalanya, kemudian berkata, “Tentu saja boleh, justru aku malah senang.”

“Yes!” sahut Achi dengan gembira. “Ngomong-ngomong kau sendirian, di mana Miku?”

Kanami menatap pintu luar, lalu menjawab, “Miku sedang keluar. Aku tidak tahu pasti, tapi katanya dia akan membeli minuman.”

♦—※—♦

Di luar hotel tempat menginap, Miku berdiri memandangi lalu lintas di jalan. Terlihat lancar dan tidak macet. Dia mulai berjalan menyusuri jalan trotoar. Situasi di Kota Kopenhagen sangat berbeda jika dibandingkan dengan Kota Jakarta.

Seiring perjalanannya, kini Miku telah menemukan sebuah mini market yang bernama Kastrupmart. Dia lalu berjalan masuk. “Wow, luas sekali tempatnya,” ucapnya dengan rasa takjub.

Tanpa berlama-lama, Miku langsung mencari sesuatu yang akan dibelinya. Beberapa produk yang disediakan di sana masih asing di mata Miku. Dia pun harus memikirkan terlebih dahulu sebelum membeli.

Ketika hendak memilih barang yang akan dibelinya, tiba-tiba ada orang asing bertanya kepada Miku. “Hello, what is your name?” tanya seseorang yang belum diketahui namanya.

Miku menoleh ke arah sampingnya. Ternyata dia baru saja ditanya oleh orang asli Kota Kopenhagen. Seorang pemuda yang seumuran dengannya. Miku merasa grogi, tapi dia langsung menjawab, “Oh ... hello, my name is Miku.”

“Hello, Miku! My name is Marco Nikolsen,” balas pemuda tersebut yang kini dikenali dengan nama Marco Nikolsen. “Where are you from?” lanjutnya bertanya.

Miku menjawab, “I’m from Jakarta, Indonesia!”

Pertemuan antara Miku dan Marco di Kopenhagen adalah yang pertama kalinya. Miku merasa cukup akrab dengan Marco, meski baru saling mengenal. Setelah selesai membeli barang di Kastrupmart, Miku dan Marco berjalan keluar.

Suasana sore hari di sekitar tempat tersebut memang sepi, karena sudah memasuki jam-jam istirahat. Langit tampak mendung, sebentar lagi akan turun hujan. Marco berhenti di depan Miku, dia tersenyum. Dipandanginya wajah Miku.

Perlahan-lahan Marco berjalan mendekati Miku. “Dia kenapa terlihat aneh, ya?” gumam Miku dalam hati. Miku berjalan mundur, dia merasa curiga dan takut kepada Marco.

Marco mengarahkan tangan kanannya ke arah tas milik Miku. Dengan sigap, tas milik Miku dirampas olehnya. Marco lantas membawa tas tersebut, kemudian berlari meninggalkan Miku. Tak disangka-sangka sebelumnya, ternyata Marco adalah seorang pencuri.

Melihat tasnya diambil oleh Marco tidak membuat Miku diam begitu saja. Dia berusaha mengejar Marco dengan segenap kekuatannya, namun tetap tidak bisa mengimbangi laju lari Marco. Miku kemudian melepas sepatu high heels yang dikenakannya. Terbukti dengan melepas sepatu yang dipakainya membuat laju larinya menjadi lebih cepat.

Miku terus mengejar Marco. Terlihat ada tujuh orang di sekitar jalan trotoar yang sedang melihat kejadian kejar-kejaran antara Miku dan Marco. Mereka semua tidak menyadari jika telah terjadi pencurian tas. Apalagi Miku berteriak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ketujuh orang tersebut tidak paham bahasa Indonesia. Jadi, mereka berpikir kalau Marco dan Miku sedang bercanda layaknya anak muda yang sedang pacaran.

“Berhenti!” teriak Miku dengan nada terbata-bata. “Dasar pencuri!”

Marco sudah semakin jauh meninggalkan Miku yang masih mengejarnya. Miku pun pasrah ketika tasnya raib dicuri.

Langit sudah berubah menjadi gelap. Terdengar pula suara gemuruh petir, hujan pun turun. Miku bingung harus pergi ke mana. Dia tidak tahu arah jalan menuju ke hotel tempatnya menginap. Ponselnya juga telah raib bersama tas yang dicuri tadi. Miku berjalan di persimpangan jalan layaknya orang yang sedang kebingungan.

Tiba-tiba sebuah mobil Volkswagen hampir menabrak Miku. Kaca mobil dibuka, terlihat ada seorang perempuan yang mengemudikan mobil tersebut.

“What’s happening?” ucap sang pengemudi. Dia melihat Miku dengan rasa kasihan. “Are you OK?”

Miku menoleh ke arahnya, kemudian menjawab, “Can you speak in Indonesian?”

“Apa? Ternyata orang yang hampir aku tabrak ini bisa berbahasa Indonesia,” ucap sang pengemudi dalam hati. Dia keluar dari mobil dan menghampiri Miku.

Perempuan yang mengemudikan mobil Volkswagen tersebut kemudian mengajak Miku masuk ke dalam mobilnya, karena sedang turun hujan. “Kau bisa berbicara dalam bahasa Indonesia? Apa yang sedang terjadi kepadamu?” tanyanya kepada Miku.

“Apakah kau bisa membantuku untuk menangkap seorang pencuri?” pinta Miku dengan penuh rasa harap. “Tasku baru saja dicuri orang yang baru aku kenal hari ini.”

“Itu mudah,” ucap sang perempuan sambil melepas kacamata hitamnya. “Tapi tidak sekarang, karena ini sudah menjelang malam dan sedang turun hujan. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak bisa, aku lupa arah jalannya,” sahut Miku kebingungan.

“Baiklah kalau begitu, kau bisa tinggal sementara di rumahku. Tidak baik seorang perempuan keluar malam-malam di tempat ini,” tutur sang perempuan. Dia lalu mengemudikan mobilnya kembali menuju ke rumahnya.

“Terima kasih,” ucap Miku merasa lega. “Namaku Miku, siapa namamu? Sepertinya kau fasih berbahasa Indonesia?” lanjut Miku bertanya.

Perempuan tersebut tersenyum, kemudian menjawab, “Namaku Saiki Atsumi. Kau bisa memanggilku dengan nama Atsumi.”

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Saiki Atsumi (sebagai Agen “Atsumi” SA-8F)
2. Miku Kobato (sebagai Miku)
3. Kanami Touno (sebagai Kanami)
4. Misa (sebagai Misa)
5. Akane Hirose (sebagai Achi)
Pembuat:
Beňy
Genre:
Aksi, Petualangan, Teknologi, Intelijen
Daftar Episode:
» Episode 1 - Permulaan
» Episode 2 - Menuju ke Skandinavia
» Episode 3 - Lari, Miku!
» Episode 4 - Menyergap Marco
» Episode 5 - Miku Telah Kembali
» Episode 6 - Target Operasi
» Episode 7 - Krusial
» Episode 8 - Lepas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel