BUNDESLIGA
Sabtu, 3 Desember 2016 – 21:30 WIB
Signal Iduna Park
BVB BORUSSIA DORTMUND
vs
BORUSSIA MÖNCHENGLADBACH
BMG
✽ Siaran: –

Cari Artikel

JADWAL BORUSSIA DORTMUND
Minggu, 20 November 2016 - 00:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund Bayern München
Rabu, 23 November 2016 - 02:45 WIB
UEFA Champions League
Borussia Dortmund Legia Warszawa
Sabtu, 26 November 2016 - 21:30 WIB
Bundesliga
Eintracht Frankfurt Borussia Dortmund
Sabtu, 3 Desember 2016 - 21:30 WIB
Bundesliga
Borussia Dortmund Borussia Mönchengladbach
Kamis, 8 Desember 2016 - 02:45 WIB
UEFA Champions League
Real Madrid Borussia Dortmund

Agen SA-8F - Episode 7

Peringatan:
Cerita ini adalah karangan dari penulis dan sifatnya hanya fiksi. Tidak bermaksud merugikan pihak tertentu. Kenapa judulnya “Agen SA-8F”? “SA” adalah inisial dari nama Saiki Atsumi sedangkan “8F” adalah tanggal lahirnya, yakni 8 Februari.
Inspirasi:
Cerita ini terinspirasi dari para personel grup band beraliran hard rock dan heavy metal, yakni BAND-MAID.

【Agen SA-8F】



(Episode 7 - Krusial)

Alan melihat sekitar, bersiap untuk mencari celah untuk melarikan diri. Meski di sekelilingnya ada banyak tentara yang mengepung, namun dia tetap akan kabur. Rencana dimulai, Alan bersiap untuk berlari. Hanya dalam waktu singkat, dia langsung berlari ke arah kiri. Arah tersebut memang yang paling lengah untuk dijaga.

Atsumi merasa kecolongan dengan pergerakan Alan secara tiba-tiba. “Gawat ....”

“Kejar dia!” seru salah seorang tentara yang berdiri di garis depan. “Jangan sampai lolos!”

Alan yang kala itu dikejar belasan tentara tetap merasa tenang, bahkan sedikit meledek.

Sementara di tempat lain, Liviana sudah mendapat perawatan setelah mengalami penembakan yang dilakukan oleh Alan. Saat ini dia berada di Rumah Sakit yang berada di Departemen Pertahanan Denmark. Di dekatnya ada Misa dan Kanami yang menemani.

“Bagaimana keadaannya?”–Misa menatap wajah Liviana–“ini sangat menyedihkan.”

Kanami membaca tulisan dari dokter di secarik kertas yang dia bawa. “Aku pikir keadaannya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Misa menoleh ke arah Kanami, kedua matanya masih berkaca-kaca. “Benarkah itu?”

“Iya, Misa,” balas Kanami. “Bacalah surat dari dokter ini!”

“Mana-mana?”–Misa membaca secarik kertas tersebut–“aku berharap juga demikian.”

♦—※—♦

Alan masih dikejar oleh Atsumi dan belasan tentara lainnya. “Atsumi, percuma saja kau mengejar. Kau tak akan bisa menangkapku,” ucap Alan, tangannya mengepal ke arah atas.

Laju lari Atsumi semakin melambat, dia mulai kehilangan stamina, nafasnya terengah-engah. “Awas kau—”

Situasi semakin krusial setelah Alan berlari menuju mobil Mercedes-Benz miliknya. Alan merasa yakin jika dirinya mampu lolos dari pengejaran para tentara. “Kalian semua payah!”

Atsumi semakin kehilangan tenaganya saat berlari. Dia pun berhenti, menatap Alan yang berhasil kabur dengan menaiki mobil. “Aduh ... bagaimana ini?”

“Cepat, cepat ... kejar dia.” Para tentara masih berusaha mengejar, sementara Atsumi terlihat pasrah dengan situasi ini.

Cuaca pada waktu itu sedang tidak bersahabat. Langit gelap, suara petir mulai terdengar, dan hujan sebentar lagi akan turun. Atsumi yang kala itu pasrah kemudian mendengar suara langkah kaki. “Siapa itu?” Atsumi belum ingin membalikkan tubuhnya ke arah belakang.

Sebuah tepukan mengarah ke bahu Atsumi. “Hei, apa yang terjadi denganmu?”

Atsumi terkaget. “Suara itu ...,”–dia memutar badannya ke arah belakang–“Miku ... kau?”

Miku menatap Atsumi dengan rasa percaya diri. “Iya, ini aku.”

“Atsumi, ada apa denganmu?” Miku memberi semangat. “Ayo kita tangkap dia!”

Atsumi terkejut dengan perkataan Miku. “Hah ... benarkah itu, Miku?”

“Iya, benar,”–Miku tersenyum manis, matanya menyipit–“kita akan menangkap Alan secara bersama-sama. Itu jauh lebih baik, ’kan?”

Atsumi balas tersenyum. “Ayo, Miku!”

Atsumi dan Miku berjalan ke arah yang lain. Keduanya bergegas menaiki mobil Volkswagen kepunyaan Atsumi. Setelah semua dipersiapkan, pengejaran dimulai. Meski Alan sudah cukup jauh melarikan diri, namun Atsumi dan Miku bersikeras untuk menangkapnya. Cuaca yang tak bersahabat pada waktu itu membuat pandangan Atsumi sedikit terganggu. Hujan deras bahkan membuat mobil yang dikendarainya sedikit melintir.

Posisi Alan sudah terlihat oleh penglihatan Atsumi. “Itu dia,”–tatapan Atsumi semakin tertuju kepadanya–“kau akan berakhir, Alan.”

Miku yang duduk di samping Atsumi merasakan sebuah adrenalin. “Yeah!”

Mobil yang dikendarai Atsumi sudah mendekati mobil Alan. Kedua mobil melaju sejajar dengan kecepatan tinggi.

Alan membuka kaca mobilnya. “Haha ... kau pikir kau mampu menangkapku?”

“Ya, itu sudah pasti.” Atsumi menabrakan mobilnya ke mobil Alan.

Dari kejadian ini, mobil Alan sedikit terpental, namun masih bisa dikendalikan. “Kurang ajar,” katanya.

Kedua mobil masih dalam akselerasi tinggi. Alan mengarahkan pistolnya ke arah mobil Atsumi dan menembakkan secara brutal. Meski demikian, peluru yang dilepaskan tidak begitu merusak bagian kaca. Miku bahkan beberapa kali menunduk untuk mengantisipasi agar tidak terkena tembakan.

“Ini akan sulit, jauh lebih sulit untuk membuatnya turun dari mobil.” Miku berkata demikian, rasa bingung menyelimuti hatinya.

“Ya, ini realitanya,”–Atsumi masih fokus menyetir mobil, otaknya berpikir keras–“kau tahu, Miku ... ini bisa saja berakhir buruk untuk kita.”

Miku menoleh ke arah Atsumi. “Atsumi, kau tidak boleh berkata seperti itu.”

Tembakan masih dilancarkan oleh Alan. Kini giliran Alan yang menabrakkan mobilnya ke mobil Atsumi. Miku terkejut, kemudian menengok ke arah kiri. “Huh ....”

“Sial,” ucap Atsumi, lirih.

“Atsumi, pinjamkan aku pistolmu,”–Miku menjulurkan tangan kanannya–“dia akan segera berakhir.”

Atsumi melirik. “Serius? Kau bisa menggunakan pistol?”

Miku tertawa kecil. “Meremehkanku, ya? Aku bisa meniru caramu menembak pada waktu itu.”

“Ini,”–Atsumi memberikan pistolnya kepada Miku–“pakailah!”

Melaluli jendela mobil yang sedikit terbuka, Miku mulai membidik. Dia memang sebelumnya belum pernah menggunakan pistol, jadi caranya menembak juga masih terlihat amatiran. Saiki yang berada di samping kanannya juga masih merasa was-was kepada Miku. Dia menyetir mobil sembari mengamati cara Miku membidik. “Fokuslah!”

Satu tembakan dilepaskan Miku. Alan merasa kaget dengan hal ini. Rasa terkejutnya muncul sebab yang menembakinya bukan Saiki, melainkan seorang wanita yang bernama Miku. “Bagus, Miku,” pungkas Saiki yang memuji Miku.

“Sial, apa-apaan ini,” gertak Alan.

Miku tersenyum, matanya masih fokus membidik. “Rasakan itu, Alan, kau pikir caramu itu bisa membuat kami semua menjadi takut? Tentu tidak!”

Alan menatap tajam ke arah Saiki dan Miku. Dia lalu menabrakkan mobilnya ke mobil Saiki dengan kencang. “Awas kalian!”

“Aaaaah—” Saiki berteriak saat dia merasa kesulitan mengendalikan mobil yang disenggol mobil Alan.

Bersambung ....

Tokoh Utama:
1. Saiki Atsumi (sebagai Agen “Atsumi” SA-8F)
2. Miku Kobato (sebagai Miku)
3. Kanami Touno (sebagai Kanami)
4. Misa (sebagai Misa)
5. Akane Hirose (sebagai Achi)
Pembuat:
Beňy
Genre:
Aksi, Petualangan, Teknologi, Intelijen